Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 April 2012

Ulbah bin Zaid, Sang Fakir yang Dermawanan




Tersebutlah kisah salah seorang sahabat Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, dia adalah Ulbah bin Zaid. Dia bukanlah termasuk sahabat Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam yang terkenal sebagaimana Abu Bakar dan Umar. Pada kisah hidupnya kita akan melihat potret kedermawanan si faqir. Bagaimana seorang faqir bisa disebut dermawan ? bukankah biasanya kata dermawan disematkan kepada orang yang cukup hartanya lalu dia bersedekah dan berinfaq dengan hartanya itu ? Simak kisah berikut ini…
Sekitar bulan Sya’ban di tahun 9 H, ketika itu musim paceklik sedang melanda kota Madinah dan sekitarnya, perekonomian kaum muslimin juga sedang sulit-sulitnya, musim panas sedang berada di puncaknya, angin di musim itu juga membawa hawa panas, debu-debu beterbangan mengotori atap-atap dan halaman rumah penduduk kota Madinah. Kulit serasa diiris, mata perih seperti perihnya luka yang diteteskan dengan air cuka. Di musim panas sepert itu biasanya penduduk kota Madinah lebih suka menetap di rumah, atau tinggal di kebun-kebun mereka sambil memetik kurma muda yang memang sedang ranum-ranumnya, karena pohon kurma berbuahnya justru pada musim panas.

Akan tetapi kondisi politik Islam pada saat itu keadaannya sangat luar biasa, sebagai dampak kemenangan demi kemenangan yang diraih oleh pasukan Islam terutama setelah Fathul Makkah dan perang Hunain. Disamping juga setelah itu Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam mengirimkan surat kepada seluruh raja di dunia ini untuk masuk Islam atau harus membayar pajak, atau diperangi.

Hal ini semakin menambah panas keadaan. Karena pada saat itu tersebar berita bahwa bangsa Romawi yang merupakan bangsa dan kerajaan terkuat dan tebesar pada masa itu, sedang melakukan persiapan besar-besaran akibat ketidakpuasan mereka akan hasil Perang Mu’tah yang mana pasukan Islam yang jumlahnya hanya 3000 pasukan berhasil menahan gempuran 200.000 pasukan gabungan Romawi dan beberapa kabilah yang musyrik. Dimana Khalid bin Walid sebagai panglima perang kaum muslimin melakukan trik jitu, yaitu menukar pasukan yang di belakang menjadi di depan, yang kiri menjadi ke kanan dan sebaliknya sehingga pasukan Romawi menjadi gentar.

Mereka mengira ada tambahan pasukan kaum muslimin. Dalam benak mereka, pasukan sejumlah 3000 orang tadi saja mampu menahan gempuran mereka, apalagi ditambah 2x lipatnya tentu Romawi akan kalah. Karena trik jitu ini pasukan muslimin bisa mundur secara perlahan tanpa dikejar oleh pasukan Romawi karena pasukan Romawi mengira ini adalah siasat untuk menjebak mereka. Akhirnya kaum muslimin kembali ke Madinah dengan selamat dan hanya jatuh korban sebanyak 12 orang.

Kasak-kusuk pun merebak di kalangan kaum muslimin akan adanya pembalasan pasukan Romawi yang akan menyerang daerah yang telah dikuasai kaum muslimin dan bahkan menuju kota Madinah. Disinilah letak kisah seorang sahabat Ulbah bin Zaid, dia diselipkan oleh catatan sejarah didalam peperangan Tabuk yang nantinya perang ini merupakan peperangan terbesar antara kaum muslimin dengan kaisar Romawi. Tidak biasanya Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam mengumumkan secara langsung akan kemana tujuan peperangannya, biasanya kalau berperang ke arah timur maka Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bertanya kepada sahabatnya tentang arah barat dan seterusnya. Akan tetapi keberangkatan perang kali ini sangat jelas tujuannya yaitu Tabuk, suatu daerah yang nun sangat jauh bagi bangsa Arab untuk ditempuh ketika itu.

Coba lihat apa yang dilakukan oleh orang-orang munafiq pada saat itu, mereka merasa bimbang, gelisah, dan gundah karena membayangkan perjalanan yang sangat jauh. Diantara mereka saling mengatakan seharusnya keberangkatan tidak pada musim panas ini, maka Allah turunkan ayat yang berkaitan dengan mereka :

وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

“…dan berkatalah orang-orang munafiq: ‘janganlah pergi berperang di musim panas ini’. Katakanlah (ya Muhammad) api neraka jahannam lebih panas, jika saja mereka mau mengerti ” (QS. At Taubah 81)

Suatu kali Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam ingin menguji salah seorang dari mereka yaitu Jaad bin Qois, beliau berkata “wahai Jaad, bagaimana menurutmu jika kita pergi berperang melawan Bani Ashfar (orang romawi)..?”

Dia pun menjawab,” izinkanlah aku untuk tidak berangkat perang dan jangan jatuhkan aku ke dalam fitnah (ujian). Demi Allah ya Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, kaumku sangat tahu bahwa aku adalah orang yang paling mudah tergoda dengan wanita diantara mereka. Dan aku takut kalau nanti aku melihat wanita romawi aku tidak tahan.., aku tidak bisa menahan nafsuku..”

Beliau pun berpaling dan berkata, “engkau aku izinkan untuk tidak berperang wahai Jaad..”

Padahal Jaad bin Qois hanya beralasan agar dia tidak berangkat perang, lalu beralasan takut tergoda oleh wanita-wanita putih Romawi, padahal tujuan sebenarnya adalah supaya dirinya tidak berangkat perang pada musim panas tersebut. Maka Allah Ta’ala turunkan ayat

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ

“ Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir ”(QS. At Taubah : 49)

Berbeda keadaannya dengan kaum muslimin, begitu mendengar seruan jihad di jalan Allah mereka berbondong-bondong memenuhi kota Madinah dari seluruh penjuru negeri. Bagaimana tidak mereka berbondong-bondong berjihad di jalan Allah sedangkan gerbang surga yang luasnya seluas langit dan bumi akan dibukakan untuk mereka. Allah berfirman :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِين

“ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. ”(QS. Ali Imron : 133-134)

Bagaimana mereka tidak berhasrat untuk berangkat jihad, sementara mereka tahu bahwasanya jalan tercepat masuk surga adalah dengan jihad, lalu badan mereka tertusuk, tercabik, memuncratkan darah, lalu mereka gugur sebagai syahid, lantas para malaikat berebut menaikkan ruhnya ke langit..?!

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ



“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Nabi shallallohu ‘alaihi wasallamNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. ” (QS. Ash Shaaf : 10-11)

Terngiang-ngiang di telinga mereka ayat-ayat yang berhubungan dengan jihad, ayat-ayat jihad, bukan ayat-ayat cinta,

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh… ” (QS. At Taubah : 111)

Ayat-ayat ini benar-benar hadir di dalam hati mereka, kenapa hadir di hati mereka ? bukankah ayat yang sama juga kita dengar sebagaimana mereka mendengarnya dahulu, akan tetapi berbeda efeknya..? yang membedakan antara kita dan mereka adalah telah ada dan hadir kehidupan akhirat didalam kehidupan duniawi mereka, sedangkan kita…kabut tebal tentang terlalu cinta kepada dunia menyelemuti hati kita. Memang kaki mereka masih menyentuh tanah, badan mereka pun masih bersentuhan dengan alam nyata dunia, akan tetapi ruh mereka sudah bersiap-siap menjejaki surga, alam pikiran mereka telah terasa sujud di bawah ‘Arsy Allah Ta’ala..Allahu Akbar..!!

Berbondong-bondong mereka ke kota Madinah, tahu mereka bahwa Nabi mereka meminta bantuan ummatnya. Maka beliau mengajak para dermawan untuk menginfakkan hartanya demi keberangkatan pasukan prihatin ini (Jaisyul Usroh). Kenapa disebut pasukan prihatin ? bagaimana tidak, keadaan mereka sangat miskin, di saat musim paceklik, satu onta harus bergantian untuk delapan belas orang pasukan perang, makanan mereka adalah dedaunan agar sekalian dapat airnya, bahkan terkadang harus memotong seekor unta agar dapat air dan makanan sekaligus.

Bahkan orang-orang yang tidak mampu, tidak memiliki apa-apa dan miskin juga datang kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, berharap dirinya diikutsertakan dalam peperangan Tabuk, meminta kepada beliau bekal peperangan agar dia bisa ikut perang, termasuk juga Ulbah. Allah berfirman :

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ



“dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan ” (QS. At Taubah : 92)

Coba lihat diri kita…hidup memiliki segalanya, hidup di rumah dengan AC atau kipas angin, punya kendaraan bagus, makanan tercukupi bahkan turah-turah, tidak ada yang dikeluhkan, ketenangan ada, tidak dalam keadaan perang berkecamuk seperti di Irak, tidak kepanasan sebagaimana panas yang dirasakan oleh orang-orang yang mengungsi di Palestina.., tetapi mengapa bersamaan dengan itu kenapa kita juga masih memilukan hidup.?

Maka pada saat itu tersebutlah Ulbah bin Zaid Al Haritsi, seorang yang sangat faqir, tidak memiliki apa-apa diatas dunia ini, seorang dari golongan Anshor dari kabilah Aus, tatkala dia menyaksikan kesibukan kaum muslimin dalam persiapan jihad ke Tabuk, melihat seluruh kaum muslimin dari berbagai pelosok negeri tinggal dan menetap di tanah kelahirannya Madinah, datang berbodong-bondong kemudian memancang kemah, sambil membawa apa yang mereka miliki dari senjata dan kendaraan, memancang kemahnya menunggu hari keberangkatan. Dia juga melihat transaksi di pasar-pasar Madinah banyak transaksi yang terjadi dialog berhubungan dengan persiapan perang, dari mulai kuda, unta, panah, pedang, tameng besi dsb. Dia menyaksikan itu semua dengan kesedihan yang sangat mendalam. Semua orang telah membeli perlengkapan perangnya, sedangkan dirinya… apa yang dia mau persiapkan..? kalau hendak membeli, mau beli pakai apa? Uang satu dirham pun ia tidak punya. Apalagi pagi itu dia mendengar Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam mengatakan : man jahhaza jaisyul usroh falahul jannah

من جهز جيش العسرة غفر الله له فله الجنة

Maka semakin terbenamlah serasa dirinya ke dalam bumi, hancur luluh serasa hatinya, sedih hatinya, semua orang mendapatkan surga kecuali dirinya. Semakin panas dingin badannya mendengar sabda Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam demi melihat kefaqiran dirinya, ditambah lagi Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam mensyaratkan siapa yang mau ikut berperang harus membawa alat dan kendaraan perang sendiri. Dilihat juga oleh Ulbah bin Zaid ketika dia duduk di masjid Nabawi, dia melihat Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam dikelilingi para sahabat, tiba-tiba datang Abu Bakar sambil membawa semua harta yang dia punya sejumlah 4000 dirham.



Ketika ditanya oleh Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, “ Ya Abu Bakar, apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”

Abu Bakar menjawab, “aku tinggalkan untuk mereka Alloh dan Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam-Nya”.

Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam pun bersabda,” Tidak ada harta yang paling bermanfaat bagiku sebagaimana bermanfaatnya harta Abu Bakar”.

Umar pun datang dengan membawa setengah hartanya. Utsman bin Affan membawa seribu dinar dalam pakaiannya, bahkan kafilah dagangnya yang hendak berangkat ke Syam sejumlah dua ratus ekor unta lengkap dengan barang-barangnya dia keluarkan sedekahnya, ditambah lagi dengan seratus ekor unta, lalu ditambahnya lagi seribu dinar uang kontan. Maka Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam pun bersabda

اللهم ارض عن عثمان فإنى عنه راض

“Ya AllAh, (aku mohon padaMu) ridhoilah Utsman, sesungguhnya aku telah ridho padanya ”

Tak lama setelah itu sampailah perniagaannya yang baru datang dari Syam sejumlah 1000 ekor unta beserta isinya. Tiba-tiba datanglah tengkulak-tengkulak hendak membeli perniagaan tersebut. Salah seorang dari mereka berkata:

“Ya Utsman,kami beli 2x lipat..!!”

“Tidak..tidak..!! karena ada yang berani membeli lebih tinggi dari penawaran kalian” jawab Utsman

“Kami beli 3x lipat dari harga yang kamu dapatkan” kata si tengkulak

“Tidak..belum cukup kalau cuma 3x lipat..!!” jawab Utsman

Akhirnya tawar menawar “kami beli 10x lipat Ya Utsman..!!”

Utsman pun berkata, “tuan-tuan sekalian, ada diantara tuan-tuan yang hendak membelinya 700x lipat..??!!”

Apa kata mereka,”gila engkau Utsman..!! siapa pula yang sampai menawar hingga 700x lipat ?!”

Utsman pun menjawab,”akan tetapi Allah telah menawarnya lebih dari 700x lipat.!!”

Allohu Akbar saudaraku…Utsman pun membacakan ayat

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.” (QS. Al Baqoroh : 261)

“Saksikanlah wahai para tengkulak…semua barang perniagaan yang ada ini, seluruhnya aku infaqkan di jalan Alloh Ta’ala” seru Utsman.

Subhanalloh..Allahu Akbar..dari generasi mana mereka ini muncul, dari makhluk mana mereka ini saudaraku..dari planet mana mereka datang..?? apakah mereka diciptakan dari daging yang penuh dengan nafsu dunia dan ketamakan, yang penuh dengan kebakhilan dan ketakutan akan miskin karena berinfaq dan bersedekah..?! bukan saudaraku…tapi mereka adalah para sahabat Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam.

Tidak lama kemudian datang pula Abdurahman bin Auf sang dermawan, membawa 200 uqiyah perak, datang pula ‘Abbas bin Abdul Mutholib paman Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, Tholhah bin ‘Ubaidillah, Sa’ad bin Ubadah, Muhammad bin Maslamah, yang mereka semua berinfaq di depan mata Ulbah bin Zaid. Dia juga melihat kedatangan orang-orang yang kurang berada membawa infaq semampunya, dimulai oleh ‘Ashim bin Adiy mebawa 70 wasaq kurma, ada yang membawa dua mud bahkan satu mud kurma, tidak satu pun kaum muslimin yang tidak memberi kecuali kaum munafiqin. Allah pun menyindir mereka



الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ



“(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih. ” (QS. At Taubah 79)

Apa yang dirasakan oleh Ulbah selain kesedihan yang sangat. Apa yang bisa diperbuat sementara ia tidak punya apa-apa, sementara orang berbondong berinfaq. Melihat hal itu pulanglah Ulbah membawa semua kesedihannya. Di zaman sekarang ribuan jutaan orang membawa kesedihan dunia, Ulbah pulang membawa kesedihan karena teringat akhirat. Adakah di zaman sekarang ini sosok seperti Ulbah..?? Memikirkan kemana nanti hendak dia di tempatkan di akhirat, apakah di surga ataukah neraka, kalau ternyata di surga di tempat yang mana, di tingkatan ke berapa dan bersama-sama siapa ??



Ketika senja telah beralu dan malam pun tiba, Ulbah berusaha memejamkan matanya, tapi bagaimana mau dipejamkan matanya sementara hati masih berdebar-debar, pikiran masih galau, apa yang bisa dilakukannya selain membolak-balikkan badannya di atas tikar yang lusuh hingga tengah malam. Akhirnya dia bangkit, timbul sebuah ide, sebuah pemikiran dalam dirinya, yang kiranya apabila dia melaksanakan idenya ini mudah-mudahan dapat mengurangi kegundahan hatinya. Lantas Ulbah berwudhu dan melaksanakan sholat malam, apalagi yang bisa dilakukan oleh orang yang sengsara dan bersedih hati selain bermunajat kepada Allah Yang Maha Pemurah..?? bagi orang yang mendapatkan kesusahan kecuali dia mengadukan kepada Sang Khaliq…(do’a Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam Ya’qub, sebagaimana surat Yusuf : 86)

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

Di dalam sholatnya dia pun menangis, adakah anda pernah melihat seorang yang gundah mengadukan semua keluhan dan kegundahannya dengan menangis kepada Rabb Yang Memiliki isi langit dan bumi..? dia sebutkan kefaqirannya, dia sebutkan kelemahannya, dia sebutkan ketidakberdayaannya, dia minta kepada Allah jangan sampai kefaqirannya dan ketidakmampuannya berinfaq pada persiapan perang Tabuk ini menggeser kedudukannya dibanding sahabat-sahabatnya kelak di surga, jikalau aku Engkau buat susah di dunia, janganlah pula Engkau jauhkan aku dari surgamu. Diantara doanya adalah:

“Ya Alloh, engkau perintahkan kami untuk berjihad, engkau perintahkan kami untuk berangkat ke Tabuk, sedangkan engkau tidak memberikan aku sesuatu apapun untuk bekal berangkat berperang bersama Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam-Mu, maka malam ini saksikanlah ya Allah…sesungguhnya aku telah bersedekah kepada setiap muslim dari perlakuan zhalim mereka terhadap diriku, maka inilah kehormatanku aku infaqkan di jalan-Mu, jika ada seorang muslim menghinakan dan merendahkan diriku, maka aku infaqkan itu semua di jalanMu Ya Allah..tidak ada yang dapat aku infaqkan sebagaimana orang lain telah berinfaq, kalau sekiranya aku punya sebagaimana mereka punya akan aku infaqkan untukMu, maka yang aku punya hanya kehormatan sebagai seorang muslim, kalau engkau bisa menerimanya, maka saksikanlah kehormatan ini aku sedekahkan untukMu malam ini…”

Alangkah jernihnya doa tersebut…keluar dari hati seseorang yang tidak punya apapun di dunia ini melainkan kehormatan, alangkah teduhnya ucapan di malam hari yang gelap, terangkat doanya ke langit ke tujuh, menggetarkan Arsy Alloh Ta’ala, semua sedekah tidak sehebat sedekahnya. Esok shubuh Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam memimpin sholat berjama’ah, hadir pula Ulbah bin Zaid. Telah ia lupakan air mata yang tumpah bercucuran di tikar lusuhnya tadi malam, ia lupakan karena telah dibasuh oleh air wudhu yang baru. Akan tetapi Aloh tidak pernah lupa, Allah tidak pernah menyia-nyiakan doa hamba-Nya. Kejadian di tempat yang sepi tersebut dikabarkan oleh Alloh kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam melalui Malaikat Jibril. Selesai sholat Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam pun berdiri kemudian Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bertanya

من يتصدق بصدقة مقبولة في هذه الليلة ؟

Ternyata tidak ada yang berdiri, karena merasa tidak bersedekah tadi malam, atau merasa yakin betul sedekahnya diterima oleh Alloh Ta’ala. Ulbah bin Zaid pun tidak merasa bahwa dirinya telah bersedekah.

Akan tetapi Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam mendekati Ulbah dan berkata, “sungguh ya Ulbah, sedekahmu malam tadi telah diterima oleh Allah Ta’ala sebagai sedekah yang maqbul..!!”

Bagaikan aliran listrik yang langsung mengalir ke jantung Ulbah bin Zaid, laksana halilintar dahsyat menghantam dirinya, karena dia sama sekali tidak mengira, cahaya kebahagiaan langsung memancar dari dirinya.

“Benarkah ya Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam..benarkah sedekahku yang tadi malam yang tidak ada apa-apanya itu diterima Alloh…??” tanyanya penasaran seolah-olah tidak percaya.

Maka Nabi pun menyerahkan 6 ekor unta kepada Ulbah bin Ziad dan tujuh orang temannya untuk berangkat ke medan jihad, peperangan Tabuk…peperangan yang atas izin Alloh dimenangkan oleh kaum muslimin, ditandai dengan menyerahnya negara-negara boneka Romawi, dan semakin berkurangnya daerah kekuasaan kerajaan Romawi (www.suaramedia.com)
Selengkapnya...

Selasa, 30 Juni 2009

Tokoh Semasa di Negeri Terjajah



SYEIKH AHMAD YASIN

Masa kecil Ahmad Yasin dihiasi dengan berbagai peristiwa dan kejadian. Dengan berbekal kesabaran dan keimanan, ia mampu melewati berbagai tantangan yang ia hadapi, hingga menjadi pemimpin para mujahid sampai kemudian Allah mewujudkan impiannnya gugur sebagai syahid di tangan kotor zionis Israel. Lalu, bagaimana situasi dan kondisi yang menyertai pertumbuhan Syaikh Ahmad Yasin? Bagaimana ia menjalani awal-awal kehidupannya? Bagaimana ia mampu mengalahkan keterbatasan fisiknya? Semua jawaban pertanyaan ini dipaparkan dalam buku ”Ahmad Yasin: al Dzahirah al Mu’jizah wa Usthurah al Tahaddi” (Ahmad Yasin: Fenomena Mena’jubkan dan Legenda Perlawanan) karya Ahmad Abu Yusuf.

Ahmad Yasin lahir pada tahun 1936 M di desa Jurah. Sebuah desa yang sangat mempersona dan indah, desa yang makmur dan kaya. Teletak di pinggiran kota Majdal sebelah selatan kota Gaza. Tepatnya di bekas reruntuhan kota bersejarah Asqelan yang teletak dekat pantai Laut Tengah, di mana perang salib terjadi. Desa tersebut dikelilingi oleh perkebunan jeruk, tin, zaitun, anggur, dan berbagai tanaman hijau lainnya. Penduduknya bekerja sebagai petani dan nelayan. Mereka memiliki ratusan sampan kecil untuk mengarungi lautan dari pantai Rafah ke Thanturah. Di sana terdapat lembah semut seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menegaskan bahwa lembah semut itu terdapat di negeri Syam.

Ahmad Yasin kecil biasa dipanggil dengan (kuniyah) Abu Sa’dah, dinisbatkan kepada ibundanya Sa’dah Abdullah al Hubail, untuk membedakan sebutan karena banyaknya nama Ahmad dalam keluarga Yasin. Sa’dah adalah sosok hajjah yang mulia, sabar, dan penuh keyakinan, termasuk wanita terhormat di desa tersebut. Ayah Ahmad Yasin bernama Ismail Yasin, orang terkemuka di desanya. Keluarganya termasuk keluarga yang berkecukupan. Ismail meninggal dunia ketika Ahmad masih sangat kecil, belum lewat usia 3 tahun, meninggalkan keluarga yang terdiri atas sebelas orang. Ahmad Yasin adalah anak ketiga di antara 4 anak laki-laki keluarga Ismail. Mereka tinggal bersama di desa Jurah sampai datang tahun “Prahara” 1948 ketika desa tersebut dihujani bom dari arah udara dan laut. Puluhan penduduk setempat dan penduduk desa tetangga yang mengungsi ke tempat tersebut meninggal dunia.

Ahmad yang saat itu berusia sebelas atau dua belas tahun pindah bersama keluarganya ke Jalur Gaza, tepatnya di kamp pengungsi al Shati’ dekat pantai kota Gaza. Selama kurang lebih seperempat abad Ahmad tumbuh dan belajar di kamp tersebut hingga menikah dan dikaruniahi putra dan putri. Pada masa yang penuh dengan rasa frustasi dan keputusasaan ini, cahaya dakwah gerakan Islam mulai tampak. Para dai mereka membangkitkan semangat perlawanan, keteguhan, dan harapan. Pengiriman delegasi mereka dari Mesir ke daerah Gaza tidak pernah berhenti. Dari Mesir berdatangan para guru, prajurit, cendekiawan, dan ulama seperti Syaikh Mahmud Ied dan Syaikh Muhammad Gazali. Sebelum mereka, Syaikh Hasan al-Banna sudah lebih dulu mendatangi kota Gaza. Kunjungannya merupakan awal mula keberkahan dan kebaikan bagi daerah tersebut dan penduduknya.

Ketika rumah di kamp pengungsi terasa sempit untuk menampung anggota keluarganya, juga karena banyaknya tamu dan pengunjung yang datang ke rumahnya, Syaikh Ahmad Yasin memboyong keluarganya ke lorong sebelah selatan kota Gaza, tepatnya di desa Jurah al Syams. Para relawan membangunkan rumah sederhana untuknya. Disinilah Syaikh menerima para tamu dan rekan-rekan seperjuangannya. Dia hidup dengan perabotan sederhana, jauh dari kemewahan dunia, mencukupkan diri dengan uang pension sebagai guru yang tidak seberapa besar.

Sebelum tahun “Prahara” 1948, Ahmad Yasin adalah murid kelas tiga sekolah dasar. Ketika mengungsi ke Gaza, Ahmad Yasin melanjutkan sekolah di madrasah ”Imam Syafi’i”, sekolah utama yang ada kala itu di Gaza. Sekolah ini membuka sekolah pagi (untuk siswa asli Gaza) dan sekolah sore (untuk siswa pengungsi). Ahmad Yasin menyelesaikan sekolah dasar di madrasah Imam Syafi’i tahun 1952. Kemudian melanjutkan sekolah menengah pertama di al Rimal, khusus untuk pengungsi, dan selesai tahun 1955. Adalah sebuah keajaiban yang menjadi kehendak Allah, bila Ahmad Yasin menjadi guru di sekolah tersebut di kemudian hari (mengingat cacat fifik yang dialaminya). Kemudian Ahmad Yasin melanjutkan di Sekolah Menegah Atas Palestina dan selesai pada tahun 1958. Karena sejumlah asalah akhirnya Ahmad Yasin tidak bisa melanjutkan studinya ke jenang yang lebih tinggi. Di antara sebab itu adalah: 1- Bahwa cita-cita sebagian besar keluarga Palestina di Jalur Gaza kala itu adalah menuntaskan anak-anaknya sekolah hingga tamat sekolah menengah atas untuk kemudian bekerja sebagai guru atau pegawai guna membantu ekonomi keluarga. 2- Bahwa pendidikan kala itu hampir-hampir hanya terbatas di kalangan keluarga yang berkecukupan ekonominya, di samping mereka yang dibiaya dan dikirim oleh Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina UNRWA (United Nation Agency for Relief and Work of Palestinian Refugees) untuk melanjutkan studinya dengan pesyaratan. 3- Adalah masalah kondisi kesehatan yang buruk dan tidak wajar yang dialami Ahmad Yasin. Sedangkan Ahmad Yasin tidak termasuk yang disebutkan diatas. Dia bukan dari keluarga berduit dan tidak termasuk yang dikirim Agency. Untuk itu dia lebih memilih untuk bekerja.

Sampai di sini riwayat pendidikan Ahmad Yasin, meskipun dia sendiri pernah mencoba untuk melanjutkan studi di Universitas Kairo, Mesir, dan diterima. Namun dia tidak bisa melanjutkan studinya.

Namun demikian Ahmad Yasin membekali dirinya dengan pendidikan tinggi secara autodidak. Sungguh menakjubkan, Ahmad Yasin terbukti menguasai segala bidang keilmuan mulai dari agama, bahasa, sastra, politik, sosial sampai masalah ekonomi. Dengan wawasan yang luas inilah kemudian Ahmad Yasin menjadi sumber rujukan di Jalur Gaza dan semua orang, dari berbagai lapisan, terkesan oleh ceramah-ceramah yang disampaikan. Semua orang mendengar apa yang dikatakan dan menaruh hormat. Sejatinya, semua itu bukan hanya karena wawasan dan keilmuan yang dimilikinya saja. Sebenarnya banyak kaum intelek Palestina kala itu, namun – allahu a’lam – mungkin itu semua karena sikap wara’, ikhlas, tawadhu’, energik – meski fisiknya cacat –, kecerdasan, visi yang benar, kelapangan dada dan semangat memperjuangkan agama dan tanah air, serta totalitas kerjanya diperuntuhkan hanya pada Allah.


Kecelakaan Itu

Pada awal-awal tahun 50-an – khususnya di Jalur Gaza – para pemuda Palestina mulai terbuka matanya kepada gerakan islam. Itu karena keterbukaan Mesir pada masa itu dan kontak mereka dengan para dai melalui mahasiswa-mahasiswa yang pulang ke Gaza atau melalui kunjungan para dai, ulma dan tokoh pergerakan islam dari Mesir seperti yang kami sebutkan di atas. Gerakan Islam tidak hanya menyajikan materi keislaman semata. Namun dia ibarat pendidikan yang menyeluruh. Mulai dari keilmuan hingga olah raga. Tidak jarang kegiatan oleh raga dikaitan dengan kegiatan keilmuan dan pendidikan (tarbiyah). Ahmad Yasin termasuk salah satu dari anak kandung gerakan islam ini, tepatnya gerakan al Ikhwan al Muslimun dari Mesir, semenjak dia pindah ke Gaza.

Di dekat kamp pengungsi al Shati’, pantai adalah tempat bermain yang sangat penting dan strategis. Di sana banyak dilakukan aktivitas mulai dari keilmuan yang disusul dengan kegiatan olah raga. Di antara olah raga yang dilakukan adalah melompat dari ketinggian ke pasir laut (yang indah), atau seorang naik di atas pundak yang lain saling berpegangan tangan kemudian melompat ke laut, atau bermain bola dan berbagai permainan berat lainnya. Dalam salah satu permainan di pantai pada musim panas tahun 1952 Ahmad Yasin jatuh terjungkal kepalanya, seperti diceritakan Ahmad Yasin kepada keluarganya kala itu. Namun seperti diceritakan Dr. Abdul Aziz Rantisi, “Beliau mengalami musibah patah tulang leher saat bermain gulat dengan salah satu teman beliau, asy Syahid Abdullah Shiyam (Komandan Perang “Khalda” Beirut tahun 1982 yang gugur dalam perang tersebut). Namun beliau menyembunyikan sebab-sebab terjadinya kecelakaan tersebut kepada keluarga beliau agar tidak timbul masalah antara keluarga beliau dan keluarga Shiyam. Ketika itu, beliau hanya berkata bahwa kecelakaan itu terjadi karena ia melompat di udara dan kemudian terjatuh dengan kepala terlebih dahulu. Baru pada tahun 1990 beliau bercerita yang sebenarnya kepadaku saat bersama dalam satu pernjara.”

Penyair Palestina, Muhammad Abu Diyah, yang pernah menjadi sahabat Ahmad Yasin sejak kecil menuturkan, “Kami lantas membawanya ke kamp pengungsi. Kami menduga dengan beberapa pengobatan saja – diurut dengan air dan minyak sebagaimana cara pengobatan orang-orang desa pada umumnya – ia akan sembuh. Namun, ternyata musibah itu mengancam tulang lehernya dan berpengaruh pada tulang belakangnya kemudian berakibat pada kelumpuhan sebagian tubuhnya.” Ahmad Yasin akhirnya hanya bisa berjalan dengan berjinjit sambil menyeret pasir, kadang dia harus menancapkan kakinya ke dalam pasir untuk mendapatkan keseimbangan. Bila mengenai tanah yang keras dia langsung limbung dan jatuh. Sementara itu jari-jari tangannya kaku tidak bisa digerakan. Tidak bisa memegang apapun kecuali dengan sangat sulit. Ahmad Yasin, remaja yang masih belia dan penuh canda ini, setelah peristiwa tersebut berubah menjadi orang yang serius. Dia tetap berusaha datang shalat berjamaah di masjid dan bertekad melanjutkan sekolahnya hingga tamat tahun 1958.

Muhammad Abu Diyah menuturkan, Ahmad terus melanjutkan sekolah. Ia ke sekolah berjalan kaki dengan buku dikepit di ketiaknya. Ia berjalan kaki dengan berjinjit, sementara tangannya kaku dan jari-jarinya nyaris tidak bisa memegang pulpen kecuali dengan sangat sulit. Akan tetapi, ia tetap melanjutkan studinya hingga tamat dengan prestasi memuaskan. Setelah terjadi tarik ulur antara berbagai pihak yang bertanggung jawab dalam administrasi pemerintahan Mesir saat itu dan para tokoh pendidikan, akhirnya ia ditunjuk sebagai guru. Ia adalah sosok pendidik dan dai yang luar biasa. Pada saat itu aku melihat ia berjalan beberapa langkah kemudian terjatuh ke tanah. Lalu, ia mengambil buku-bukunya dan bangkit berdiri. Kemudian ia kembali berjalan dengan penuh semangat. Ini adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan oleh orang kuat sekalipun.”

Mengenai pekerjaan, hal itu tidak didapat Ahmad Yasin dengan mudah. Selepas tamat tahun 1958, sebagaimana kebanyakan anak muda Palestina kala itu, Ahmad Yasin mencari kerja. Pekerjaan yang paling diminati kebanyakan orang kala itu adalah mengajar, baik itu di sekolah pemerintah ataupun di sekolah milik UNRWA. Untuk bekerja di lembaga yang disebut terakhir ini sangat tidak mungkin bagi AHamas Yasin meski memiliki banyak keistimewaan dan fasilitas yang diberikan. Mudir (direktur) Sekolah UNRWA kala itu Khalil Uwaidha seorang sosialis dan juga wakilnya Farid Abu Wirda seorang sosialis, bahkan bisa dibilang para pejabat pendidikan UNRWA kala itu adalah orang-orang sosialis. Tidak ada tempat lain bagi Ahmad Yasin kecuali melamar di dinas pendidikan pemerintah.

Pada pagi hari buta saat pergi ke panitia pendaftaran untuk mengikuti interview, Ahmad Yasin bertemua dengan salah seorang rekannya. Dia berkata dengan lembut kepada Ahmad untuk memberikan pertimbangan. ”Apakah kamu berfikir bahwa panitia akan menerimamu?? Sedang kamu tahu bagiamana kredibilitasnya. Dan semua orang tahu apa yang harus dilakukan orang yang ingin masuk dan diterima. Ya akhi, saudaraku, sebaiknya batalkan saja perjalananmu dan kembalilah.”

Mendengar hal itu Ahmad Yasin hanya tersenyum samblk berdiri sempoyongan di atas jari-jari kakinya. ”Wahai saudaraku, apakah kamu mengira saya pergi ke panitia untuk mendapatkan belas kasihan? Tidak, demi Allah. Saya adalah seorang muslim yang percaya kepada kuasa Allah, jika memang Allah berkehendak saya diterima maka tak seorang manusiapun mampu mencegah rizki saya. Tidakkah kamu membaca firman Allah swt, ” Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan. (QS. 51:22-23) Tidakkah kau ingat sabda Rasulullah yang dieiwayatkan dari Ibnu Abbas, ”Ketahuilah, sekitanya umat manusia berhimpun untuk memberikan kemanfaatan kepadamu dengan sesuatu maka mereka tidak akan bisa memberikan kepadamu kecuali yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan ketahuilah, sekiranya umat manusia berhimpun untuk mencelakaimu dengan sesuatu maka mereka tidak akan bisa mencelakaimu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah atasmu…” Demi Allah, saya percaya pada Allah dan Dia tidak akan mencelakanku. Saya bertawakal kepada Allah dan akan meneruskan perjalanan ini.” Ahmad Yasin akhirnya meneruskan perjalanan.

Setelah wawancara, panitia pendaftaran milihat banyak keistimewaan yang dimiliki Ahmad Yasin. Namun hanya satu hal, dia pincang!!! Sedang siapapun tahu, kala itu, barang siapa yang ingin lulus maka harus membanyar sejumlah uang untuk mempermudah prosesnya. Nama Ahmad Yasin akhirnya diloloskan ke pihak otoritas pendidikan umum untuk diambil keputusan. Di depan namanya tertulis, kemampuanya sangat bagus, nilainya sangat tinggi dan sangat baik, namun dia pincang!!! Cacat itupun menjadi pertimbangan serius pihak dinas otoritas pendidikan. Namun bila Allah sudah berkehendak, siapapun tak ada yang bisa menolaknya, ketika Kepala Otoritas Pendidikan kala itu, al Fariq Ahmad Salim, anak kesayangannya lahir cacat kakinya. Segera teken di depan nama Ahmad Yasin dengan tinta merah ”diterima”. Kemudian dia memerintahkan panitia untuk menerima semua calon guru yang diajukan oleh panitia.

Ahmad Yasin kemudian kembali ke almamaternya sebagai guru bahasa Arab dan pendidikan Agama dengan gaji 10 junaih Mesir setiap bulan. Ada kekhawatiran guru yang pincang ini akan mendapatkan perlakukan buruk dan pelecehan oleh sebagian siswanya. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, sosok pincang ini justru mengundang banyak kekaguman dan pernghormatan tidak saja dari murid-muridnya namun juga dari rekan-rekan guru dan wali murid.


Sosok Umat yang Utuh

Dalam sebuah artikelnya, Dr. Abdul Aziz Rantisi, tokoh yang menggantikan Syaikh Yasin memimpin Hamas sepeninggal beliau yang kemudian menjadi target pembunuhan Israel berikutnya, melukiskan tentang pribadi pendiri dan tokoh spiritual Hamas ini dengan menyebut sebagai sosok yang setara dengan umat atau umat yang terdapat pada satu sosok dirinya. Rantisi menuliskan, Syaikh Ahmad Yasin adalah seorang tokoh pemimpin yang istimewa. Dialah sosok yang ketika mendapat bencana dan cobaan, justru memperbesar tekad dan keteguhannya dalam meneruskan jalan meskipun terjal. Beliau terus menapakkan kaki dengan berkorban, memberi, dan bahkan mewujudkan berbagai target yang pada gilirannya melahirkan gerakan perjuangan Islam.

Sebuah artikel sangat tidak cukup untuk melukiskan bahkan untuk menyelami kedalaman lautan sosok ini (Syaikh Yasin), apalagi sampai ke dasarnya. Lautan sosok ini sangat dalam, dalam sekali. Karena itu, sebuah artikel, sebuah buku, bahkan sepuluh jilid atau sebanyak apapun jumlahnya, ia tidak akan bisa memuat semua keutamaannya. Sejarah akan berhenti lama untuk mendokumentasikan pemimpin berkebangsaan Palestina yang pejuang ini. Namun demikian ada beberapa bagian dari kehidupan dan sifat beliau yang perlu diungkap pada saat sekarang agar dapat dicontoh dan ditanamkan pada diri dan jiwa generasi masa depan umat Islam. Pemimpin yang satu ini memiliki tekad yang tak pernah ragu, keinginan yang tak pernah kendur, keberanian yang tak pernah surut, serta kekuatan yang tak pernah lemah.

Syaikh Ahmad Yasin memasuki usia yang kelima belas tahun ketika beliau mengalami musibah patah tulang leher saat bermain gulat dengan salah satu teman beliau, asy-Syahid Abdullah Shiyam. Meskipun musibah yang menimpa pemuda ini sangat besar, namun beliau menyembunyikan sebab-sebab terjadinya kecelakaan tersebut kepada keluarga beliau agar tidak timbul masalah keluarga antara keluarga beliau dan keluarga Shiyam. Ketika itu, beliau hanya berkata bahwa kecelakaan itu terjadi karena ia melompat di udara dan kemudian terjatuh dengan kepala terlebih dahulu. Baru pada tahun 1990 beliau memberitahukan kepadaku sebab yang sebenarnya. Yaitu ketika aku bersama beliau di dalam penjara. Artinya, empat puluh tahun sesudah kecelakaan itu terjadi. Itulah pertama kali beliau mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Keluarga beliau sendiri sampai detik ini tidak pernah mengetahuinya. Kecelakaan yang mengenaskan tersebut telah menyebabkan pemuda Ahmad Yasin terserang kelumpuhan. Betis beliau tidak bisa bergerak. Demikian pula dengan lengan beliau. Tentu saja, orang yang terkena musibah semacam ini akan menjadi lemah dan hanya bisa pasrah. Ia hanya akan menjadi orang yang terpinggirkan dan tersia-siakan. Ia menjadi beban bagi masyarakat dan tanggungan yang berat bagi keluarganya.

Akan tetapi, yang menakjubkan dan menarik perhatian, Syaikh Ahmad Yasin telah menorehkan kemenangan pertama dalam hidupnya ketika ia mampu melahirkan gerakan dari kelumpuhannya, kehendak kuat dari kelemahannya, serta kekuatan dari ketidakberdayaannya. Jadi, tekad ruhiyah Syaikh Yasin mampu mengalahkan kelemahan fisiknya. Beliau melanjutkan sekolahnya hingga menjadi seorang guru. Kemudian beliau naik ke berbagai mimbar sebagai khatib, penceramah, pendidik, dan dai yang menyeru kepada Allah dengan hujjah yang jelas. Beliau juga menyiapkan pemuda muslim untuk mengemban tugas dakwah dan menghadapi berbagai konspirasi yang ditujukan kepada bangsa Palestina. Hal itulah yang membuatnya ditangkap oleh pemerintahan Mesir pada saat itu. Sesudah kekalahan pada tahun 1967 M, Syaikh Ahmad Yasin bangkit dengan kembali mendirikan gerakan Ikhwanul Muslimun di wilayah Gaza. Beliau berhasil mendirikan bangunan tersebut dengan kesabaran, keteguhan, dan ketekunan yang luar biasa. Jarang kita melihat sosok seperti beliau di dunia modern seperti ini. Apalagi, di saat bangsa Arab dan umat Islam sedang tidur nyenyak dan berada dalam kondisi lemah, terpecah, dan kalah. Sementara, Syaikh menyambung siang dan malamnya dengan terus bergerak demi untuk mencapai impian besar dalam menyelamatkan umat dari musibah yang menimpanya.

Setelah sukses membangun kembali Ikhwan di Palestina, Syaikh mulai menyiapkan sejumlah orang untuk mencapai kemenangan lain demi kebaikan bangsa Palestina. Bahkan, demi kebaikan bangsa Arab dan umat Islam. Yang menjadi tujuan pertama beliau adalah keluar dari kondisi yang lemah dan bangkit kembali. Beliau terdorong oleh keimanan yang sangat kuat bahwa umat mampu untuk mencapai kemenangan jika memiliki tekad untuk keluar dari kekalahan dan menghentikan sikap mengekor kepada musuh. Beliau mulai melakukan persiapan untuk menghadapi perang jangka panjang yang dilakukan oleh gerakan Islam dalam melawan permusuhan zionis terhadap Palestina, serta terhadap bangsa Arab dan umat Islam. Maka, Syaikh Ahmad Yasin mendirikan sebuah sayap militer gerakan Hamas. Namun, Allah menakdirkan sayap militer ini dihancurkan di saat awal kelahirannya, yang menyebabkan Syaikh Yasin ditangkap oleh musuh. Saat diinterogasi oleh pihak zionis beliau mendapatkan siksaan yang hebat. Hal itu terjadi pada tahun 1984 M, tiga tahun sebelum kemunculan gerakan intifadhah. Beliau dihukum penjara selama 13 tahun. Namun, berkat karunia Allah, setelah sebelas bulan mendekam di penjara, beliau dibebaskan lewat kesepakatan pertukaran tawanan pada tahun 1985 M, yang dilakukan oleh seorang pejuang, Ahmad Jibril, Sekjen Front Rakyat dengan pihak zionis. Beliau keluar dari penjara dengan tekad, keinginan, dan keteguhan untuk meneruskan perjuangan.

Di saat Syaikh Yasin memunculkan gerakan intifadhah Palestina pada tahun 1987 M, sebelumnya telah didirikan sayap militer gerakan Hamas yang selanjutnya diberi nama Brigade asy-Syahid Izzuddin al-Qassam, agar gerakan Hamas, sayap militernya, dan gerakan intifadhah rakyat Palestina menyerupai deklarasi perang total terhadap musuh yang biadab. Hal ini ditujukan untuk mewujudkan keseimbangan pertahanan dalam kondisi tidak adanya keseimbangan kekuatan.

Pada tahun 1987 M, beliau mendirikan gerakan perlawanan Islam (Hamas). Pada saat yang sama, dideklarasikan dimulainya gerakan intifadhah bangsa Palestina terhadap kezaliman, permusuhan, dan kesewenang-wenangan dalam bentuk pendudukan kaum zionis atas Palestina. Juga, terhadap tindakan mereka yang mengotori tempat-tempat suci, terutama Masjid al-Aqsa yang penuh berkah. Lalu, perlawanan terhadap pembantaian anak-anak, wanita, orang tua, bahkan janin yang masih berada di kandungan ibunya. Serta, perlawanan terhadap tindakan penghancuran desa-desa dan kota, pembongkaran rumah-rumah yang sedang ditempati oleh penghuninya, penebangan pohon-pohon berbuah, pembumihangusan tanah-tanah pertanian, dan penghancuran kehidupan rakyat. Syaikh Yasin memahami bahwa zionis perusak ini mempergunakan politik teror untuk mewujudkan tujuan-tujuan zionismenya yang agresor. Beliau juga mengetahui bahwa musuh dan penjahat ini tidak akan berhenti dengan politik tersebut, kecuali apabila harga yang harus dibayarkan untuk kejahatannya itu terlalu tinggi.

Syaikh Yasin ditangkap untuk kedua kalinya pada tahun 1989 M. Pihak zionis memvonisnya dengan penjara seumur hidup. Setelah delapan tahun berada di tahanan, berkat karunia Allah beliau dibebaskan akibat sebuah operasi yang gagal yang dilakukan oleh Mossad di Yordania. Yaitu operasi teror yang tujuannya ingin menghabisi nyawa sang MujAhed, Khalid Misy’al, pimpinan biro politik gerakan Hamas.

Syaikh Yasin keluar dari tahanan guna memproklamirkan kepada dunia bahwa jihad tidak akan berhenti sampai tanah Palestina merdeka secara total, bahwa satu jengkal tanahpun tidak akan dibiarkan kepada mereka, dan bahwa setiap hak rakyat Palestina akan terus dituntut, terutama hak untuk kembali bagi para pengungsi Palestina yang telah diusir dari rumah-rumah mereka sejak tahun 1948 M, disebabkan oleh teror zionis. Selain itu, beliau juga menolak segala kesepakatan dan perjanjian yang mengarah kepada penawaran untuk mendapat tanah air dan penyerahan sebagian darinya guna kepentingan zionis Yahudi yang didukung oleh kaum salibis yang dengki.

Kedengkian zionis terhadap Syaikh Yasin sampai ke tingkat menyuruh penguasa Palestina untuk menekan Syaikh Yasin. Maka, Penguasa Palestina menetapkan tahanan rumah kepada beliau dan segera merespon keinginan Israel. Akan tetapi, publik Palestina menolak hal tersebut agar beliau bisa keluar lagi meneruskan tekadnya yang kuat untuk melanjutkan perjalanan jihad.

Ketidaksenangan zionis berlanjut dan kemudian berwujud kepada usaha untuk menghabisi nyawa Syaikh dengan membom rumah yang beliau tinggali pada saat terjadinya serangan teror dengan bom seukuran seperempat ton. Akan tetapi, Allah menyelamatkan beliau. Syaikh Yasin keluar dengan selamat meskipun kerusakan yang menimpa rumah tersebut sangat parah. Ketika selamat dari upaya tersebut, ia kembali bersikeras melanjutkan perjalanan jihad. Berbagai kesulitan justru membuat beliau bertambah kuat, teguh, dan semangat mempertahankan hak-hak tanah air.


Selintas Perjalanan Syaikh Yasin

Syaikh Yasin berusia sepuluh tahun saat Inggris mengumpulkan bangsa zionis dari seluruh penjuru dunia untuk ditempatkan di tanah Palestina. Melalui kekuatan militer yang diperkuat dengan cerita bualan tentang tanah yang dijanjikan, didirikanlah untuk mereka negara yang bernama Israel pada tahun 1948.

Itulah awal tahun prahara (nakhbah) bagi bangsa Palestina. Syaikh Yasin bersama keluarganya dipaksa mengungsi ke wilayah Jalur Gaza. Untuk sementara waktu dia harus berhenti sekolah karena harus bekerja membantu kakaknya untuk mencukupi ekonomi keluarga. Tiga tahun kemudian Syaikh Yasin melanjutkan sekolah hingga terjadilah sebuah kecelakaan yang membuat seluruh tubuhnya lumpuh kecuali bagian kepalanya. Kondisi lumpuh tidak menghentikannya meneruskan studi hingga menjadi seorang pengajar bahasa Arab dan Tarbiyah Islamiyah baik di alamamaternya mmaupun di beberapa sekolah bantuan internasional (UNRWA) di Gaza.

Keterlibatannya dalam gerakan islam berbuntut pada penangkapan oleh pemerintahan Jamal Abdul Naseer karena dituduh sebagai bagian dari gerakan al Ikhwanul al Muslimun.

Ketika tokoh-tokoh gerakan Ikhwan yang berada di Gaza meninggalkan daerah tersebut untuk lari dari cengekeraman Nasser, Ahmad Yasin memiliki pandangan lain. Ia menegaskan bahwa di atas tanah itulah kehidupan dan jihad layak diwujudkan.

Ia memulai dari nol ketika kekuasaan kaum kiri dan nasionalis mencapai Tepi Barat dan wilayah Gaza sehingga ketaatan beragama lenyap dari masyarakat Palestina dalam bentuk yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Ketika ketaatan beragama dianggap sebagai bid’ah yang buruk dan simbol keterbelakangan, Syaikh Yasin tetap yakin bahwa era Islam pasti datang dan debu yang menutupi kesadaran umat akan segera hilang sehingga mereka kembali kepada akar dan rahasia kemuliaan mereka. Syaikh Yasin merancang bangunan tersebut: dari shalat ke shalat, dari masjid ke masjid lain. Syaikh menanamkan benihnya di tanah Isra dan Mi’raj seraya memberikan kabar gembira akan datangnya hari esok yang lebih baik.

Usahanya tidak hanya terbatas pada wilayah Gaza, tempat ia mendirikan Majma’ Islami, sebuah sebuah lembaga Islam yang lengkap, mencakup bidang sosial, kemasyarakatan, dan dakwah. Bahkan, beliau meluaskan upayanya hingga mencapai Tepi Barat yang menjadi tempat berkembangnya aliran kiri, nasionalis dan sekuler.

Di akhir 1970-an dan di awal 1980-an, pohon yang dibangun Syaikh Yasin sudah mulai membesar sedikit demi sedikit. Pihak-pihak lain di negara Palestina mulai menyadari bahayanya. Mereka menghadapi upaya Syaikh Yasin dengan menuduhnya sebagai agen penjajah sebab tidak memproklamirkan perlawanan bersenjata. Akan tetapi, Syaikh Yasin memahami tindakannya. Perlawanan tidak boleh tegak di atas pondasi yang lemah. Ia harus tegak di atas dasar-dasar yang kokoh dan kuat.

Pada tahun 1983, Syaikh Yasin merasa bahwa telah tiba saatnya untuk melakukan persiapan fisik dan materil sesudah melakukan persiapan spritual secara baik. Hal itu terlihat dengan berkembangnya sikap religius di masyarakat dan munculnya kekuatan gerakan Islam sebagai kekuatan kedua di berbagai universitas dan asosiasi. Bahkan di beberapa komunitas ia mulai mengungguli gerakan pembebasan.

Oleh pihak militer, Syaikh Yasin dianggap telah melakukan pengumpulan senjata, membentuk pasukan militer dan menyerukan pelenyapan eksistensi negara Yahudi. Karenanya, beliau ditangkap bersama koleganya kemudian dihadapkan ke mahkamah militer Israel dan divonis 13 tahun penjara, sementara hukuman yang lebih lama diberikan kepada sejumlah koleganya. Di antaranya kepada Syaikh asy Syahid Solah Syahadah. Hal itu berlangsung selama dua tahun. Pada tahun 1985, Syaikh Yasin keluar dari penjara berkat proses pertukaran tahanan dengan Front Rakyat yang dipimpin oleh Ahmad Jibril dengan pihak Israel, setelah beliau mendekam selama 11 bulan dalam penjara rezim Imperialis Israel

Fase itu adalah fase keputusasaan. Organisasi PLO mengalami kekalahan di Beirut. Kondisi negara-negara Arab juga sedang jatuh. Tawar-menawar dilakukan di sana-sini guna mengembalikan pengakuan internasional terhadap Palestina.

Syaikh kembali menghembuskan Gerakan Perlawanan Islam Palestina kalangan para pemuda lewat berbagai masjid yang telah menjadi simbol dalam melawan penjajah. Pihak terakhir ini merasa telah berhasil melenyapkan upaya perlawanan masyarakat Palestina, di luar dan di dalam.

Maka pada penghujung tahun 1987, tepatnya tanggal 14 Desember 1987, pada masa penuh berkah terkait dengan munculnya gerakan intifadhah pertama, Syaikh bersama tiga koleganya: asy Syahid Solah Syahadah, asy Syahid Ibrahim al Muqadimah, dan asy Syahid Abdul Aziz Rantisi, mengumumkan pendirian Gerakan Perlawanan Islam yang dikenal dengan nama “Hamas”. Pada akhir bulan Agustus 1988, militer Imperialis Israel menyerbu rumah kediaman beliau di Gaza. Mereka melakukan pengeledahan dan mengancam membuang beliau dengan kursi rodanya ke Lebanon.

Lewat perjalanan gerakan intifadhah yang pertama, Hamas menjadi penggerak utama sampai-sampai gerakan intifadhah disebut dengan revolusi masjid karena menjamurnya ceramah Islam yang disampaikan oleh Syaikh Yasin di berbagai acara dari masjid ke masjid.

Otoritas penjajah menyadari bahaya peran yang dimainkan oleh gerakan Hamas dalam intifadhah. Sementara Syaikh Yasin sendiri menyadari bahwa lemparan batu semata tidak cukup untuk memberikan rasa sakit ke tubuh penjajah.

Pada mulanya dan dengan melihat kepada minimnya potensi yang ada, gerakan tersebut dengan dipimpin oleh Syaikh Yasin dimulai dengan perang menggunakan pisau. Selanjutnya di awal tahun 1989 berkembang menjadi perlawanan bersenjata dan sampai kepada penculikan tentara Israel. Akibatnya, pada tanggal 15 Juni 1989 (referensi lain menyebutkan tanggal 17 Mei 1989) rezim penjajah menangkap Syaikh Ahmad Yasin bersama kurang lebih 260 pimpinan Hamas lainnya. Israel punya alasan, penangkapan dilakukan sebagai upaya menghentikan perlawanan bersenjata yang terjadi ketika itu yang mengambil bentuk serangan dengan menggunakan as silah al abyadh (senjata putih), yakni selain senjata api, terhadap serdadu-serdadu Israel, warga Yahudi serta penculikan terhadap agen-agen Israel.

Pada tanggal 16 Oktober 1991, mahkamah militer Imperialis Israel mengeluarkan keputusan (tanpa sidang pengadilan) dengan memvonis Syaikh Ahmad Yasin berupa penjara seumur hidup ditambah 15 tahun kurungan, setelah disodorkan daftar tuduhan sebanyak sembilan item. Di antaranya seruan (provokasi) penculikan dan pembunuhan terhadap serdadu-serdadu Imperialis Israel, pendirian Gerakan Hamas beserta sayap militer dan dinas keamanannya.

Penahanan Syaikh Yasin beserta sebagian besar pimpinan gerakan Hamas di wilayah Gaza dan Tepi Barat tidak menghentikan perjuangan. Justru hal itu membentuk simpati yang membuat Hamas menjadi lebih berkembang dan lebih besar. Dalam kurun waktu antara tahun 1989-1993 wilayah Gaza berubah menjadi neraka yang menakutkan bagi para agresor. Brigade al Qassam, sayap militer Gerakan Hamas juga menjadi alat yang menyulitkan penjajah, sesuatu yang mempercepat terselenggaranya kesepakatan Oslo. Tujuannya adalah untuk melepaskan diri dari tekanan perlawanan yang dilakukan oleh Hamas dalam menghadapi tentara penjajah.

Bertahun-tahun Syaikh Yasin menjadi tahanan penjara musuh. Namun, spirit dan pernyataannya yang keluar dari dari penjara menghiasi perjalanan gerakan tersebut yang semakin membesar di mata orang Palestina serta di mata dunia Arab dan Islam. Terutama setelah munculnya gerakan mati syahid yang ditetapkan oleh Gerakan Hamas dalam melawan penjajah yang dipimpin oleh asy Syahid Yahya Ayyas yang mati syahid setelah dibunuh pada tanggal 15 Januari 1996.

Bertahun-tahun Syaikh mendekam di penjara dengan menolak tawaran perkaranya diadili. Sementara itu gerakan Hamas terus berkembang dan para penjajah menyadari ancaman eksitensi yang belum pernah dikenal dalam sejarah mereka sebelumnya. Hal ini seperti yang diakui oleh Ya’kub Beiri dalam bukunya, Datang untuk membunuhmu… Bunuh Ia segera!, yang mencatatkan sejarah perlawanan gerakan Hamas di masa asy-Syahid Yahya Ayyas dan sesudahnya.

Rabu pagi, tanggal 1 Oktober 1997, Syaikh Ahmad Yasin dibebaskan berkat perjanjian yang berlangsung antara Jordania dan rezim Imperialis Israel, dengan kompensasi penyerahan dua agen (antek) Zionis yang tertangkap di Jordania setelah mereka gagal dalam upaya pembunuhan terhadap al-Akh Khalid Misy'al, Kepala Biro Politik Hamas di Amman pada tanggal 25 September 1997.

Setelah melanglang buana ke negara Arab, Syaikh kembali ke wilayah Gaza yang menyambutnya bak pahlawan. Sang Pemimpin itupun kembali mengawasi anak-anaknya.

Pada tanggal 28 September 2000 perjalanan gerakan intifadhah untuk al-Aqsa mulai muncul dengan Syaikh Yasin sebagai pemimpinnya. Ketika para pimpinan politik ditangkap dan dibunuh di Tepi Barat, wilayah Gaza relatif tidak terjangkau oleh penjajah. Hal itu karena ia memang sulit dijamah. Hanya saja, kekuatan dan kehadiran pimpinan di Gaza, terutama Syaikh Yasin, telah menyulut emosi penjajah. Mereka mulai melakukan gelombang pembunuan terhadap para pemimpin militer dan politik. Maka, dibunuhlah Syaikh Solah Syahadah, Ibrahim al Muqadamah, Ismail Abu Syanab serta puluhan pimpinan sayap militer lainnya termasuk pengganti Syaikh yasin, Dr. Abdul Aziz Rantisi yang dibunuh Israel pada 17 April 2004, kurang dari sebulan setelah pembunuhan Syaikh Yasin. Upaya pembunuhan juga dilakukan atas diri Dr. Mahmud Zehhar namun upaya itu gagal.

Pembunuhan terhadap diri Syaikh yasin memang sudak diperkirakan oleh semua pihak. Terlebih setelah aksi heroik di Asdod pada tanggal 15 Maret 2004 oleh dua pejuang Palestina dari Gaza, penjajah Zionis memutuskan oparasi pembunuhan dengan target para pimpinan gerakan politik guna melemahkan eksistensi gerakan perlawanan. Maka pada Senin 22 Maret 2004, selepas keluar dari masjid usai menunaikan shalat subuh, mobil yang ditumpangi Syaikh Yasin dibombardir tiga rudal yang ditembakan pesawat heli tempur Apache buatan Amerika. Syaikh Yasin gugur syahid bersama delapan orang lainnya. Di antara mereka adalah para pendampingnya. Itulah akhir kehidupan yang memang ia inginkan dan telah menjadi kehendak Allah.

Syaikh Yasin gugur syahid setelah menyempurnakan bangunan perlawanan dan merasa tenang karena bangunan tersebut sangat indah, kuat, dan kokoh. Juga, setelah ia menciptakan kemenangan yang diketahui oleh seluruh dunia lewat keputusan Sharon yang lari dari wilayah Gaza dengan dissengagement pan-nya.

Syaikh Yasin telah meninggal. Namun, perjalanan yang ia wujudkan dengan segala kesungguhan, perjuangan, dan ruhnya akan terus maju hingga menghabisi penjajah. Kita telah kehilangan seorang pahlawan yang menjadi legenda, seorang syaikh yang mulia, dan seorang pendidik utama. Ia menginginkan tanah air nenek moyangnya. Ia hendak mewujudkan haknya. Ia ingin agar seluruh rakyat hidup dengan damai di tanah air yang merdeka dan bahagia. Ia menuntut hak rakyat Palestina yang terkoyak oleh keputusan boneka PBB, oleh gerakan zionis serta oleh antek-anteknya, juga pengkhianatan sejumlah pimpinan tentara Arab di tahun 1948 dan sesudahnya.

Syaikh Ahmad Yasin memang telah meninggalkan dunia. Namun, ia tidak lenyap dari jiwa rakyat Palestina dan kaum muslimin. Ia adalah sosok yang melegenda. Ia hanya punya kursi roda, kepala, dan hati semata. Itulah fisik dan kondisi Ahmad Yasin. Namun, ia telah membuat takut Israel dan para sekutunya, membuat takut Israel dan agen-agen intelijennya, membuat takut beruang buas dan “penjagal” Sharon yang merubah haluan pesawat berikut rudalnya kemudian diarahkan menuju kursi roda yang sedang ditumpangi tubuh yang lumpuh itu. Selamat jalan Amir Mujahidin, Guru Perlawanan Palestina. Semoga Allah menempatkanmu di sisinya bersama para anbiya’, syuhada’dan shidiqin karena mereka itulah sebaik-baik teman.(wedangjae.com) Selengkapnya...

Selasa, 14 Agustus 2007

Yusuf alQardhawi




Lahir di sebuah desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta pada 9 September 1926. Usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur'an. Menamatkan pendidikan di Ma'had Thantha dan Ma'had Tsanawi, Qardhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Dan lulus tahun 1952. Tapi gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi "Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan", yang kemudian di sempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.

Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.

Dalam perjalanan hidupnya, Qardhawi pernah mengenyam "pendidikan" penjara sejak dari mudanya. Saat Mesir dipegang Raja Faruk, dia masuk bui tahun 1949, saat umurnya masih 23 tahun, karena keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin. Pada April tahun 1956, ia ditangkap lagi saat terjadi Revolusi Juni di Mesir. Bulan Oktober kembali ia mendekam di penjara militer selama dua tahun.

Qardhawi terkenal dengan khutbah-khutbahnya yang berani sehingga sempat dilarang sebagai khatib di sebuah masjid di daerah Zamalik. Alasannya, khutbah-khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidak adilan rejim saat itu.

Qardhawi memiliki tujuh anak. Empat putri dan tiga putra. Sebagai seorang ulama yang sangat terbuka, dia membebaskan anak-anaknya untuk menuntut ilmu apa saja sesuai dengan minat dan bakat serta kecenderungan masing-masing. Dan hebatnya lagi, dia tidak membedakan pendidikan yang harus ditempuh anak-anak perempuannya dan anak laki-lakinya.

Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir dari Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika.

Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik.

Dilihat dari beragamnya pendidikan anak-anaknya, kita bisa membaca sikap dan pandangan Qardhawi terhadap pendidikan modern. Dari tujuh anaknya, hanya satu yang belajar di Universitas Darul Ulum Mesir dan menempuh pendidikan agama. Sedangkan yang lainnya, mengambil pendidikan umum dan semuanya ditempuh di luar negeri. Sebabnya ialah, karena Qardhawi merupakan seorang ulama yang menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Semua ilmu bisa islami dan tidak islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Pemisahan ilmu secara dikotomis itu, menurut Qardhawi, telah menghambat kemajuan umat Islam. Selengkapnya...

Jumat, 20 Juli 2007

Syed Naquib al-attas

Syed Muhammad Naquib ibn Ali ibn Abdullah ibn Muhsin Al-Attas lahir pada 5 September 1931 di Bogor, Jawa Barat. Syed Muhammad Naquib ibn Ali Abdullah ibn Muhsin Al-Attas lahir pada 5 September 1931 di Bogor, Jawa Barat. Silsilah keluarganya bisa dilacak hingga ribuan tahun ke belakang melalui silsilah sayyid dalam keluarga Ba’Alawi di Hadramaut dengan silsilah yang sampai kepada Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad SAW. Diantara leluhurnya ada yang menjadi wali dan ‘ulama. Salah seorang di antara mereka adalah Syed Muhammad Al-‘Aydarus (dari pihak ibu), guru dan pembimbing ruhani Syed Abu Hafs ‘Umar ba Syaiban dari Hadramaut, yang mengantarkan Nur Al-Raniri, salah seorang alim ‘ulama terkemuka di dunia Melayu, ke tarekat Rifa’iyyah. Ibunda Syed Muhammad Naquib, yaitu Syarifah Raquan Al-‘Aydarus, berasal dari Bogor, Jawa Barat, dan merupakan keturunan ningrat Sunda di Sukapura.
Dari pihak bapak, kakek Syed Muhammad Naquib yang bernama Syed Abdullah ibn Muhsin Muhammad Al-Attas adalah seorang wali yang pengaruhnya tidak hanya terasa di Indonesia, tetapi juga sampai ke negeri Arab. Muridnya, Syed Hasan Fad’ak, kawan Lawrence of Arabia, dilantik menjadi penasihat agama Amir Faisal, saudara Raja Abdullah dari Yordania. Neneknya, Ruqayah Hanum, adalah wanita Turki berdarah aristokrat yang menikah dengan Ungku Abdul Majid, adik Sultan Abu Bakar Johor (w.1895) yang menikah dengan adik Ruqayah Hanum, Khadijah, yang kemudian menjadi Ratu Johor. Setelah Ungku Abdul Majid wafat (meninggalkan dua orang anak), Ruqayah menikah untuk yang kedua kalinya dengan Syed Abdullah Al-Attas dan dikaruniai seorang anak, Syed Ali Al-Attas, yaitu bapak Syed Muhammad Naquib.
Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Yang sulung bernama Syed Hussein, seorang ahli sosiologi dan mantan Wakil Rektor Universitas Malaya, sedangkan yang bungsu bernama Syed Zaid, seorang insinyur kimia dan mantan dosen Institut Teknologi MARA.
Latar belakang keluarganya memberikan pengaruh yang besar dalam pendidikan awal Syed Muhammad Naquib. Dari keluarganya yang terdapat di Bogor, dia memperoleh pendidikan dalam ilmu-ilmu keislaman, sedangkan dari keluarganya di Johor, dia memperoleh pendidikan yang sangat bermanfaat baginya dalam mengembangkan dasar-dasar bahasa, sastra, dan kebudayaan Melayu.
Pada usia lima tahun, Syed Muhammad Naquib dikirim ke Johor untuk belajar di Sekolah Dasar Ngee Heng (1936-1941). Di sana, dia tinggal dengan pamannya, Ahmad, kemudian dengan bibinya, Azizah, keduanya adalah anak Ruqayah Hanum dari suaminya yang pertama, Dato’ Jaafar ibn Haji Muhammad (w.1919), Kepala Menteri Johor Modern yang pertama. Pada masa pendudukan Jepang, dia kembali ke Jawa untuk meneruskan pendidikannya di Madrasah Al-‘Urwatu Al-Wutsqa, Sukabumi (1941-1945), sebuah lembaga pendidikan yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Setelah Perang Dunia II pada tahun 1946, Syed Muhammad Naquib kembali ke Johor untuk merampungkan pendidikan selanjutnya, pertama di Bukit Zarah School kemudian di English College (1946-1951). Pada masa ini, dia tinggal dengan salah seorang pamannya yang bernama Ungku Abdul Aziz ibn Ungku Abdul Majid, keponakan Sultan yang kelak menjadi Kepala Menteri Johor Modern yang keenam. Ungku Abdul Aziz memiliki perpustakaan manuskrip Melayu yang bagus, terutama manuskrip sastra dan sejarah Melayu.
Syed Muhammad Naquib banyak menghabiskan masa mudanya dengan membaca dan mendalami manuskrip-manuskrip sejarah, sastra, dan agama, serta buku-buku klasik Barat dalam bahasa Inggris yang tersedia di perpustakaan keluarganya yang lain. Lingkungan keluarga berpendidikan dan bahan-bahan bacaan seperti inilah yang menjadi faktor pendukung yang memungkinkan Al-Attas mengembangkan gaya bahasa yang baik dan pemilihan kosa kata yang tepat, yang kelak sangat memengaruhi gaya tulisan dan tutur bahasa Melayunya.
Keterlibatannya dengan sejumlah manuskrip dalam periode pembentukan ini memiliki kesan yang sangat mendalam dalam hidupnya. Sampai sekarang, dia masih memiliki koleksi manuskrip pribadi dalam bahasa Melayu dan Arab yang tidak tertera dalam catalog manuskrip yang disusun oleh Van Ronkel ataupun dalam katalog-kalatog manuskrip Melayu lainnya. Di antara manuskrip yang dimilikinya adalah Risalatu Al-Ahadiyyah, yang sering disebut karya tulis Ibn ‘Arabi atau muridnya yang bernama ‘Abdullah Al-Balyani/Balbani; Al-Tuhfat Al-Mursalah ila An-Nabi, karya Fadhl Allah Al-Burhanpuri; dan sejumlah karya lainnya yang ditulis oleh Wali Raslan Al-Dimasyqi. Perlu diketahui bahwa selama ini manuskrip Burhanpuri yang ditulis dalam bahasa Melayu dianggap telah hilang dan satu-satunya duplikat yang ada dari karya ini adalah terjemahan bahasa Jawanya.
Setelah Ungku Abdul Aziz pension, Syed Muhammad Naquib tinggal dengan pamannya yang lain, Dato’ Onn ibn Dato’ Jaafar (Kepala Menteri Johor Modern Ketujuh), sampai menyelesaikan pendidikan tingkat menengah. Dato’ Onn adalah salah seorang tokoh nasionalis, pendiri sekaligus Presiden Pertama UMNO (United Malay National Organization), yaitu partai politik yang menjadi tulang punggung kerajaan Malaysia sejak Malaysia dimerdekakan oleh Inggris.
Al-Attas menceritakan bahwa Dato’ Onn sangat mengagumi bakat seninya dan memintanya untuk membuat gambar bendera resmi UMNO dengan memasukkan symbol kekuatan, kesetiaan, dan Islam. Al-Attas pun kemudian menggambar bendera yang diinginkan : gambar keris hijau dengan latar berwarna kuning yang menyimbolkan Islam, kekuatan, dan kesetiaan Melayu; yang semuanya diletakkan di atas latar berwarna merah dan putih, yaitu warna kesukaan Hang Tuah (pahlawan dan jenderal perang Melayu yang terkenal) sekaligus warna bendea Indonesia (Al-Attas mengetahui makna symbol bendera Indonesia yang berwarna merah-putih sebab pada masa remajanya dia tinggal di Jawa, di tengah-tengah usaha memperjuangkan kemerdekaan rakyat Indonesia pada 1945).
Gambar bendera UMNO yang dilukis oleh Al-Attas yang berukuran 3,5 x 1,5 kaki itu kemudian dibawa Dato’ Onn dalam pertemuan yang diselenggarakan di rumahnya di Jalan Mariamah No.303, Johor Bahru, yang turut dihadiri Dato’ Panglima Bukit Gantang, Dato’ Zainal Abidin ibn H.Abas, Dr. Ismail ibn Dato’ Abdul Rahman, dan Kolonel Musa (atau Pak Lomak). Mereka semua setuju dengan desain yang dilukis Al-Attas.
Setelah menamatkan sekolah menengah pada 1951, Al-Attas mendaftar di resimen Melayu sebagai kadet dengan nomor 6675. Al-Attas dipilih oleh Jenderal Sir Gerald Templer, ketika itu menjabat sebagai British High Commissioner di Malaya, untuk mengikuti pendidikan militer, pertama di Eton Hall, Chester, Wales, kemudian di Royal Military Academy, Sandhurst, Inggris (1952-1955). Selama di Inggris, dia berusaha memahami aspek-aspek yang memengaruhi semangat dan gaya hidup masyarakat Inggris. Ketika di Sandhurst, dia membina persahabatan dengan beberapa orang peserta pendidikan yang lain, satu diantaranya adalah Syarif Zaid ibn Syakir, keponakan Raja Hussein dari Yordania, yang kelak menjadi Kepala Militer kemudian Perdana Menteri Yordania.
Selain mengikuti pendidikan militer, Al-Attas juga sering pergi ke negara-negara Eropa lainnya (terutama Spanyol) dan Afrika Utara untuk mengunjungi tempat-tempat yang terkenal dengan tradisi intelektual, seni, dan gaya bangunan keislamannya. Di Afrika Utara pulalah dia berjumpa dengan sejumlah pemimpin Maroko yang sedang berjuang merebut kembali kemerdekaan mereka dari tangan Prancis dan Spanyol, seperti Alal Al-Fasi, Al-Mahdi Bennouna, dan Sidi Abdallah Gannoun Al-Hasani. Di Sandhurst pulalah Al-Attas berkenalan untuk yang pertama kalinya dengan pandangan metafisika tasawuf, terutama dari karya-karya Jami yang tersedia di perpustakaan kampus. Tidak pelak lagi bahwa pengalaman yang seperti ini meninggalkan kesan yang mendalam dalam diri Al-Attas.
Setamatnya dari Sandhurst, Al-Attas ditugaskan sebagai pegawai kantor resimen tentara kerajaan Malaya, Federasi Malaya, yang ketika itu sibuk menghadapi serangan komunis yang bersarang di hutan. Namun, dia tidak lama di sini. Minatnya yang dalam untuk menggeluti dunia ilmu pengetahuan mendorongnya untuk berhenti secara sukarela dari kepegawaiannya kemudian membawanya ke Universitas Malaya, ketika itu di Singapura, pada 1957-1959. Tidak dapat dinafikan lagi bahwa latihan-latihan militer yang diterimanya, terutama yang berkaitan dengan unsur-unsur keislaman, seperti ketaatan, disiplin diri, dan kesetiaan, sangat berpengaruh dalam pelbagai pandangan dan sikapnya sebagai seorang sarjana dan administrator Muslim.
Al-Attas telah menulis dua buku ketika masih mengambil program S1 di Universitas Malaya. Buku yang pertama adalah Rangkaian Ruba’iyat, termasuk di antara karya sastra pertama yang dicetak Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, pada 1959. Buku kedua, yang sekarang menjadi karya klasik, adalah Some Aspects of Shufism as Understood and Practised Among the Malays, yang diterbitkan Lembaga Penelitian Sosiologi Malaysia pada 1963. Selama menulis buku yang terakhir ini dan demi memperoleh bahan-bahan yang diperlukan, Al-Attas pergi menjelajah ke seluruh negeri Malaysia dan menjumpai tokoh-tokoh penting sufi agar bisa mengetahui ajaran dan praktik tasawuf mereka.
Sedemikian berharganya buku yang kedua ini sehingga pada 1959 pemerintahan Kanada, melalui Canada Council Fellowship, memberinya beasiswa selama tiga tahun, terhitung sejak 1960, untuk belajar di Institute of Islamic Studies, Universitas McGill, Montreal, yang didirikan Wilfred Cantwell Smith. Di sinilah dia berkenalan dengan beberapa orang sarjana terkenal, seperti Sir Hamilton Gibb (Inggris), Fazrul Rahman (Pakistan), Toshihiko Izutsu (Jepang), dan Seyyed Hossein Nasr (Iran). Al-Attas mendapat gelar M.A. dari Universitas McGill pada 1962 setelah lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.
Setahun kemudian, atas dorongan beberapa orang sarjana dan tokoh-tokoh orientalis yang terkenal, seperti Profesor A.J. Arberry (Cambridge), Sir Mortimer Wheeler (Akademi Inggris), Sir Richard Winstedt (Akademi Inggris), dan pimpinan Royal Asiatic Society, Al-Attas pindah ke SOAS (School of Oriental and African Studies) Universitas London, untuk meneruskan pendidikan doktoralnya. Di sini, dia belajar di bawah bimbingan Profesor Arberry dan Dr.Martin Lings. Pada 1965, dia memperoleh gelar Ph.D setelah dua jilid disertasi doktoralnya yang berjudul The Mysticism of Hamzah Fanshuri lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Disertasi ini termasuk salah satu karya akademik yang penting dan komprehensif mengenai Hamzah Fanshuri, sufi terbesar atau bahkan mungkin yang sangat kontroversial di dunia Melayu.
Perlu diketahui bahwa selama menjadi mahasiswa, terutama di McGill dan London, Al-Attas sangat aktif dalam mengoreksi pandangan negatif yang ditujukan pada Islam. Selain itu, dia juga terlibat dalam kegiatan dakwah dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang murni. Atas rahmat dan petunjuk Alloh SWT, kegiatan dakwah ini berhasil menyadarkan beberapa orang sehingga mereka mau memeluk agama Islam.
Al-Attas kembali ke Malaysia pada 1965. Termasuk di antara sedikit orang Malaysia pertama yang memperoleh gelar Doctor of Philosophy dan yang mendapatkannya dari Universitas London, Al-Attas dilantik menjadi Ketua Jurusan Sastra di Fakultas Kajian Melayu Universitas Malaya, Kuala Lumpur. Dari 1968 hingga 1970, dia menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra di kampus yang sama. Di sini, dia berusaha memperbaiki struktur akademis fakultas dan mengharuskan setiap jurusan menyusun rencana dan mengurus aktivitas akademiknya dengan berkonsultasi pada jurusan-jurusan lain yang sefakultas sehingga mereka tidak berjalan sendiri-sendiri sebagaimana yang terjadi selama ini. Dia juga bertanggung jawab dalam upaya menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di lingkungan fakultas dan universitas, yang karenanya terpaksa menghadapi oposisi dosen-dosen lain yang tidak menyetujui usaha tersebut.
Pada 1970, dan dalam kapasitasnya sebagai salah seorang Pendiri Senior UKM (Universitas Kebangsaan Malaysia), Al-Attas juga berusaha mengganti pemakaian bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di UKM dengan bahasa Melayu. Dia juga ikut mengonseptualisasikan dasar-dasar filsafat UKM dan memelopori pendirian fakultas ilmu dan kajian Islam. Pada tahun yang sama dan dalam kapasitasnya sebagai Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Melayu, Al-Attas telah mengajukan konsep dan metode baru kajian bahasa, sastra, dan kebudayaan Melayu yang bia digunakan untuk mengkaji peranan dan pengaruh Islam serta hubungannya dengan bahasa dan kebudayaan lokal dan internasional dengan cara yang lebih baik. Untuk merealisasikan rencana ini, pada 1973 dia mendirikan dan mengepalai IBKKM (Institut Bahasa, Sastra, dan Kebudayaan Melayu) di UKM.
Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah seorang pakar yang menguasai pelbagai disilpin ilmu, seperti teologi, filsafat dan metafisika, sejarah, dan sastra. Dia juga seorang penulis yang produktif dan otoritatif, yang telah memberikan beberapa kontribusi baru dalam disiplin keislaman dan peradaban Melayu.
Syed Muhammad Naquib Al-Attas juga dikaruniai beberapa keahlian yang lain, seperti dalam bidang kaligrafi. Dalam bidang ini, Al-Attas pernah mengadakan pameran kaligrafi di Museum Tropen, Amsterdam, pada 1954. Dia juga telah memublikasikan tiga kaligrafi basmallah-nya yang ditulis dalam bentuk burung pekakak (1970), ayam jago (1972), ikan (1980) dalam beberapa buah bukunya.
Dia jugalah orangnya yang telah merancang dan mendesain bangunan kampus ISTAC pada 1991. Pada 1993, dia diminta menyusun tulisan klasik yang unik untuk Kursi Kehormatan Al-Ghazali. Pada 1994, dia diminta menggambar auditorium dan masjid ISTAC lengkap dengan lanskap dan dekorasi interior yang bercirikan seni arsitektur Islam yang dikemas dalam sentuhan tradisional dan gaya cosmopolitan.
Banyak sarjana lokal dan asing serta pengunjung yang kagum dengan keseriusan dan cita-cita ISTAC yang telah dituangkan Al-Attas dalam desain bangunannya. Gulzar Haider, professor arsitektur terkenal dari Universitas Carletton, Ontario, Kanada, yang selama beberapa tahun ikut mendiskusikan rencana pembangunan ISTAC dengan Al-Attas, telah melihat sketsa dan desain ISTAC yang dibuat Al-Attas beserta miniaturnya. Katanya, kemampuan imajinasi Al-Attas dalam menyusun garis dan bentuk sama baiknya dengan kemampuan Al-Attas dalam memilih kata dan menyusun kalimat dalam setiap tutur katanya. Gulzar Haider selanjutnya menambahkan :
Dengan seketika saya menyadari bahwa ketika berbicara mengenai “kilasan sejumlah bentuk yang direfleksikan dalam kaca dunia”, Profesor Al-Attas bermaksud merangkumi semua spectrum dari gambaran inderawi yang muncul setelah melihat alam semesta hingga ke tingkat-tingkat kehampaan, opaque dan transparan, gelap dan terang, tempat dan arah, geometri dan dekorasi, keheningan dan suara, dan tumbuhan, tanam-tanaman, bunga-bunga, dan aroma yang ditangkap dan disusun oleh manusia….Sebenarnya, menurut hemat saya….dia ingin agar arsitektur ikut mendorong ke arah pembentukan jiwa yang responsif, cenderung, dan siap menerima pencerahan yang direfleksikan dari “Keindahan dan Kemuliaan Tuhan” dan dari ilmu pengetahuan.

Demikian juga halnya dengan Profesor Seyyed Hossein Nasr dari Universitas George Washington yang pada pertengahan 1993 mengunjungi ISTAC. Seperti pengunjung lainnya, Nasr tidak dapat menyembunyikan kekagumannya terhadap pencapaian arsitektural ISTAC. Sekembalinya ke Amerika, dia menulis kepada Lembaga Aga Khan dan mengatakan bahwa dia “telah menemukan sebuah institusi pendidikan yang sangat indah dan tentunya merupakan salah satu konstruksi bangunan yang berhasil dalam tahun-tahun terakhir ini dari sudut pandang arsitektur Islam”.

Pada 1997, Al-Attas telah dipercaya untuk membangun kampus ISTAC baru yang hanya beberapa kilometer dari bangunan ISTAC sekarang. Melihat rancangan, desain, dan beberapa bangunan yang sedang dalam proses pembuatan, kampus baru yang direncanakan sepuluh kali lebih besar dan lebih bagus dari ISTAC yang ada sekarang, terdiri dari tempat tinggal untuk para staf dan mahasiswa, kantin, perpustakaan, ruang belajar, ruang konferensi, dan olahraga.
Perlu juga disebutkan bahwa dengan menunjuk dan melibatkan Al-Attas secara resmi sebagai perancang, desainer, penata taman, dan interior kampus ISTAC yang baru dan yang sekarang sedang dipakai, berarti uang yang berjumlah jutaan dolar yang harus dibayar untuk tenaga ahli dalam bidang tersebut bisa disimpan. Demikian juga halnya dengan kecenderungan Al-Attas untuk membeli sebagian besar bahan bangunan dan furnitur kampus, langsung dari produsen, yang tentunya sangat menghemat perbelanjaan bangunan kedua kampus tersebut.
Al-Attas sering mendapatkan penghargaan internasional, baik dari para orientalis maupun dari para pakar peradaban Islam dan Melayu. Misalnya, Al-Attas pernah dipercaya untuk memimpin diskusi panel mengenai Islam di Asia Tenggara pada Congres International des Orientalistes yang ke-29 di Paris pada 1973. Pada 1975, atas kontribusinya dalam perbandingan filsafat, dia dilantik sebagai anggota Imperial Iranian Academy of Philosophy, sebuah lembaga yang anggotanya, antara lain, terdiri dari beberapa orang professor yang terkenal, seperti Henry Corbin, Seyyed Hossein Nasr, dan Toshohiku Izutsu. Dia pun pernah menjadi konsultan utama penyelenggaraan Festival Islam Internasional (International Islamic Festival) yang diadakan di London pada 1976, sekaligus menjadi pembicara dari utusan dalam Konferensi Islam Internasional (International Islamic Conference) yang diadakan secara bersamaan di tempat yang sama.
Al-Attas juga menjadi pembicara dan peserta yang aktif dalam Konferensi Dunia Pertama mengenai Pendidikan lslam (First World Conference on Islamic Education) yang dilangsungkan di Makkah pada 1977 dan dia ditunjuk untuk memimpin komite yang membahas tujuan dan definisi pendidikan Islam. Dari 1976-1977, dia menjadi Profesor Tamu (Visiting Professor) untuk studi Islam di Universitas Temple, Philadelphia. Pada 1978, dia diminta UNESCO untuk memimpin pertemuan para ahli sejarah Islam yang diselenggarakan di Aleppo, Suriah. Setahun kemudian, dia mendapatkan anugerah Medali Seratus Tahun Meninggalnya Sir Muhammad Iqbal (Iqbal Centenary Commemorative Medal) dari Presiden Pakistan, Jenderal Muhammad Zia Ul-Haq. Al-Attas telah menghadiri dan memimpin sesi-sesi penting dalam pelbagai kongres internasional, baik yang diselenggarakan oleh UNESCO maupun oleh badan-badan akademi yang lain.
Di Malaysia posisi dan peranan Al-Attas sebagai seorang pakar yang andal tidak perlu diragukan lagi. Dari 1970-1984 dia dipilih menjadi Ketua Lembaga Bahasa dan Kesusastraan Melayu di Universitas Kebangsaan Malaysia. Dia juga pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Tun Abdul Razak untuk Studi Asia Tenggara (Tun Abdul Razak Chair of Southeast Asian Studies) di Universitas Ohio, Amerika Serikat, untuk periode 1980-1982. Al-Attas adalah pendiri sekaligus Rektor ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization), Malaysia, sejak 1987.
Dia telah menyampaikan lebih dari 400 makalah ilmiah di Negara-negara Eropa, Amerika, Jepang, Timur Jauh, dan pelbagai Negara Islam lainnya. Sebagai peenghargaan atas pelbagai kontribusinya yang menyeluruh dalam pemikiran Islam kontemporer, pada 1993, Dato’ Seri Anwar Ibrahim dalam kapasitasnya sebagai Presiden ISTAC dan Presiden Universitas Islam Malaysia Internasional (International Islamic University Malaysia) menunjuk Al-Attas sebagai Pemegang Pertama Kursi Kehormatan Abu Hamid Al-Ghazali dalam Studi Pemikiran Islam (Abu Hamid Al-Ghazali Chair of Islamic Thought) di ISTAC. Raja Hussein dari Yordania mengangkatnya sebagai Anggota Royal Academy of Jordan pada 1994,sedangkan Universitas Khartoum menganugerahi gelar doctor kehormatan (D.Litt.) di bidang seni kepadanya pada Juni 1995.
Berkenaan dengan banyaknya reaksi negatif yang ditujukan pada ide-idenya, Al-Attas pernah mengatakan bahwa berbeda dengan sarjana-sarjana Muslim lainnya, tidak pernah sekali pun terlintas dalam pikirannya untuk meninggalkan Malaysia selama-lamanya. Dia selalu ingat dan merasa diperingatkan oleh kisah Nabi Yunus a.s. yang di dalamnya diceritakan bahwa keputusan Nabi Yunus a.s. untuk meninggalkan kaumnya yang selalu bersikap masa bodoh dan sombong terhadap ajaran-ajaran yang dibawanya ternyata tidak bisa diterima Alloh SWT, yang kemudian memakai ikan untuk menelan dan mengantarkannya kembali kepada kaumnya.
Perjuangan dan aktivitas Al-Attas di pelbagai institusi pendidikan tinggi yang terdapat di Malaysia-sebuah Negara multi agama- tetapi didominasi oleh umat Islam yang sekarang sedang mengalami perubahan social ekonomi yang cepat-tidak hanya memberinya peluang untuk memahami dengan jelas isu-isu fundamental yang mendasari permasalahan-permasalahan kompleks yang sekarang sedang menghadang umat Islam, tetapi juga memberikan solusi yang tepat bagi permasalahan-permasalahan tersebut.

Karya Tulis
A. Buku dan Monograf
Al-Attas telah menulis 26 buku dan monograf, baik dalam bahasa Inggris maupun Melayu dan banyak yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa lain, seperti bahasa Arab, Persia, Turki, Urdu, Malayalam, Indonesia, Prancis, Jerman, Rusia, Jepang, India, Korea, dan Albania. Karya-karyanya tersebut adalah :
1. Rangkaian Ruba’iyat, Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Kuala Lumpur, 1959
2. Some Aspects of Shufism as Understood and Practised Among the Malays, Malaysian Sociological Research Institute, Singapura, 1963.
3. Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh, Monograph of the Royal Asiatic Society, Cabang Malaysia, No.111, Singapura, 1966.
4. The Origin of the Malay Sya’ir, DBP, Kuala Lumpur, 1968.
5. Preliminary Statement on a General Theory of the Islamization of the Malay-Indonesian Archipelago, DBP, Kuala Lumpur, 1969.
6. The Mysticism of Hamzah Fanshuri, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1970.
7. Concluding Postscript to the Origin of the Malay Sya’ir, DBP, Kuala Lumpur, 1971.
8. The Correct Date of the Trengganu Inscription, Museums Department, Kuala Lumpur, 1972.
9. Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, 1972. Sebagian isi buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan Prancis. Buku ini juga telah hadir dalam versi bahasa Indonesia.
10. Risalah untuk Kaum Muslimin, monograf yang belum diterbitkan, 286 h., ditulis antara Februari-Maret 1973. (buku ini kemudian diterbitkan di Kuala Lumpur oleh ISTAC pada 2001).
11. Comments on the Re-examination of Al-Raniri’s Hujjat Al-Shiddiq : A Refutation, Museums Department, Kuala Lumpur, 1975.
12. Islam : The Concept of the Religion and the Foundation of Ethics and Morality, Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), Kuala Lumpur, 1976. Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Korea, Jepang, dan Turki.
13. Islam : Paham Agama dan Asas Akhlak, ABIM, Kuala Lumpur, 1977. Versi bahasa Melayu buku no.12 di atas.
14. Islam and Secularism, ABIM, Kuala Lumpur, 1978. Diterjemahkan ke dalam bahasa Malayalam, India, Persia, Urdu, Indonesia, Turki, Arab, dan Rusia.
15. (Ed.) Aims and Objectives of Islamic Education : Islamic Education Series, Hodder and Stoughton dan King Abdulaziz University, London : 1979. Diterjemahkan ke dalam bahasa Turki.
16. The Concept of Education in Islam, ABIM, Kuala Lumpur, 1980. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Persia, dan Arab.
17. Islam, Secularism, and The Philosophy of the Future, Mansell, London dan New York, 1985.
18. A Commentary on the Hujjat Al-Shiddiq of Nur Al-Din Al-Raniri, Kementerian Kebudayaan, Kuala Lumpur, 1986.
19. The Oldest Known Malay Manuscript : A 16th Century Malay Translation of the ‘Aqa’id of Al-Nasafi, Dept. Penerbitan Universitas Malaya, Kuala Lumpur, 1988.
20. Islam and the Philosophy of Science, ISTAC, Kuala Lumpur, 1989. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Bosnia, Persia, dan Turki.
21. The Nature of Man and the Psychology of the Human Soul, ISTAC, Kuala Lumpur, 1990. Diterjemahkan ke dalam bahasa Persia.
22. The Intuition of Existence, ISTAC, Kuala Lumpur, 1990. Diterjemahkan ke dalam bahasa Persia.
23. On Quiddity and Essence, ISTAC, Kuala Lumpur, 1990. Diterjemahkan ke dalam bahasa Persia.
24. The Meaning and Experience of Happiness in Islam, ISTAC, Kuala Lumpur, 1993. Diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Turki, dan Jerman.
25. The Degress of Existence, ISTAC, Kuala Lumpur, 1994. Diterjemahkan ke dalam bahasa Persia.
26. Prologonema to the Metephysics of Islam : An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam, ISTAC, Kuala Lumpur, 1995. Diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia.

B. Artikel
Daftar artikel berikut ini tidak termasuk rekaman ceramah-ceramah ilmiah yang telah disampaikan di depan public. Berjumlah lebih dari 400 dan disampaikannya di Malaysia dan luar negeri antara pertengahan 1960-1970, aktivitas ceramah ilmiah ini masih berlangsung sampai sekarang.
1. “Note on the Opening of Relations between Malaka and Cina, 1403-5”, Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society (JMBRAS), vol.38, pt.1, Singapura, 1965.
2. “Islamic Culture in Malaysia”, Malaysian Society of Orientalism, Kuala Lumpur, 1966.
3. “New Light on the Life of Hamzah Fanshuri”, JMBRAS, vol.40, pt.1, Singapura, 1967.
4. “Rampaian Sajak”, Bahasa, Persatuan Bahasa Melayu Universiti Malaya no.9, Kuala Lumpur, 1968.
5. “Hamzah Fanshuri”, The Penguin Companion to Literature, Classical and Byzantine, Oriental, and African, vol.4, London, 1969.
6. “Indonesia : 4 (a) History : The Islamic Period”, Encyclopedia of Islam, edisi baru, E.J. Brill, Leiden, 1971.
7. “Comparative Philosophy : A Southeast Asian Islamic Viewpoint”, Acts of the V International Congress of Medieval Philosophy, Madrid-Cordova-Granada, 5-12 September 1971.
8. “Konsep Baru Mengenai Rencana serta Cara-gaya Penelitian ilmiah Pengkajian Bahasa, Kesusastraan, dan Kebudayaan Melayu”, Buku Panduan Jabatan Bahasa dan Kesusastraan Melayu”, Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur : 1972.
9. “The Art of Writing, dept. Museum”, Kuala Lumpur, t.t.
10. “Perkembangan Tulisan Jawi Sepinta Lalu”, Pameran Khat, Kuala Lumpur, 14-21 Oktober 1973.
11. “Nilai-Nilai Kebudayaan, Bahasa, dan Kesusastraan Melayu”, Asas Kebudayaan Kebangsaan, Kementerian Kebudayaan Belia dan Sukan, Kuala Lumpur, 1973.
12. “Islam in Malaysia” (versi bahasa Jerman), Kleines Lexicon der Islamischen Welt, ed. K. Kreiser, W. Kohlhammer, Berlin (Barat), Jerman, 1974.
13. “Islam in Malaysia”, Malaysia Panorama, Edisi Spesial, Kementerian Luar Negeri Malaysia, Kuala Lumpur, 1074. Juga diterbitkan dalam edisi bahasa Arab dan Prancis.
14. “Islam dan Kebudayaan Malaysia”, Syarahan Tun Sri Lanang, seri kedua, Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan, Kuala Lumpur, 1974.
15. “Pidato Penghargaan terhadap ZAABA”, Zainal Abidin ibn Ahmad, Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan, Kuala Lumpur, 1976.
16. “A General Theory of the Islamization of the Malay Archipelago”, Profiles of Malay Culture, Historiography, Religion, and Politics, editor Sartono Kartodirdjo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1976.
17. “Preliminary Thoughts on the Nature of Knowledge and the Definition and Aims of Education”, First World Conference on Muslim Education, Makkah, 1977. Juga tersedia dalam edisi bahasa Arab dan Urdu.
18. “Some Reflections on the Philosophical Aspects of Iqbal’s Thought”, International Congress on the Centenary of Muhammad Iqbal, Lahore, 1977.
19. “The Concept of Education in Islam : Its Form, Method, and Sistem of Implementation”, World Symposium Al-Isra’, Amman, 1979. Juga tersedia dalam edisi bahasa Arab.
20. “ASEAN-Ke mana Haluan Gagasan Kebudayaan Mau Diarahkan?” Diskusi, jil.4, no.11-12, November-Desember, 1979.
21. “Hijrah : Apa Artinya?” Panji Masyarakat, Desember, 1979.
22. “Knowledge and Non-Knowledege”, Readings in Islam, no.8, first quarter, Kuala Lumpur, 1980.
23. “Islam dan Alam Melayu”, Budiman, Edisi Spesial Memperingati Abad ke-15 Hijriah, Universiti Malaya, Desember 1979.
24. “The Concept of Education in Islam”, Second World Conference on Muslim Education, Islamabad, 1980.
25. “Preliminary Thoughts on an Islamic Philosophy of Science”, Zarrouq Festival, Misrata, Libia : 1980.
26. “Religion and Secularity”, Congress of the World’s Religions, New York, 1985.
27. “The Corruption of Knowledge”, Congress of the World’s Religions, Istanbul, 198http://diandhra.blogs.friendster.com/my_blog/5 Selengkapnya...

Senin, 02 Juli 2007

HAMKA

HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah(tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.




HAMKA mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Meninjau sehingga Darjah Dua. Ketika usia HAMKA mencecah 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA telah mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo.

Kerjaya HAMKA bermula sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. HAMKA kemudian dilantik sebagai pensyarah di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau dilantik sebagai Rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustapo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau dilantik sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jawatan apabila Sukarno memberi kata dua sama ada menjadi pegawai kerajaan atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslim Indonesia (Masyumi).



HAMKA lebih banyak belajar sendiri dan melakukan penyelidikan meliputi pelbagai bidang ilmu pengetahuan seperti falsafah, kesusasteraan, sejarah, sosiologi dan politik, sama ada Islam ataupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-?Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggeris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Freud, Toynbee, Jean Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. HAMKA juga rajin membaca dan bertukar-tukar fikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Chokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, Haji Fakrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang pemidato yang handal.

HAMKA juga aktif dalam gerakan Islam melalui pertubuhan Muhammadiyah. Beliau menyertai pertubuhan itu mulai tahu 1925 bagi menentang khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cawangan Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, HAMKA mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makasar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S. Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Jogjakarta pada tahun 1950. Pada tahun 1953, HAMKA dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Julai 1957, Menteri Agama Indonesia iaitu Mukti Ali melantik HAMKA sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 kerana nasihatnya diketepikan oleh kerajaan Indonesia.

Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 apabila beliau menjadi anggota parti politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang kemaraan kembali penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerila di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA dilantik sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun1966, HAMKA telah dipenjarakan oleh Presiden Sukarno kerana dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mula menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, HAMKA dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majlis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an lagi, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

HAMKA juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.



HAMKA pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormat Doktor Honoris Causa, Universiti al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universiti Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelaran Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno daripada kerajaan Indonesia.

HAMKA telah pulang ke rahmatullah pada 24 Julai 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.from : rantau net Selengkapnya...