Selasa, 02 Agustus 2011

Busana Syar'i Bagi Muslimah




Wanita yang muslimah lagi shalihah yaitu wanita yang bukan sekedar wanita, tetapi wanita yang menghiasi hatinya dengan hiasan ketakwaan, mendandani sikapnya dengan akhlak dan budi pekerti yang luhur, serta menutup auratnya dengan busana yang syar’i.
Bagaimanakah busana syar’i yang dimaksud ? Berikut penjelasan dari Syeikh Yusuf Qardhawi yang ku kutip dari bukunya yang berjudul (Fatwa-fatwa Kontemporer jld I ):
Busana syar’i atau pakaian yang sesuai dengan aturan syari’at Islam yaitu yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
1.Menutup seluruh tubuh selain yang dikecualikan oleh al-Qur’an dalam firman Allah (….apa yang biasa tampak), yang menurut pendapat yang lebih kuat mengenai penafsiran ayat tersebut ialah mukan dan dua telapak tangan.

2.Tidak tipis dan tidak menampakkan bentuk badan, Rasulullah bersabada : “Diantara yang termasuk ahli neraka ialah wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang berjalan dengan lenggak lenggok untuk merayu dan untuk dikagumi. Mereka ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
Maksud :berpakaian tetapi telanjang” yaitu pakaian yang tidak berfungsi menutup aurat, sehingga dapat mensifati kulit karena tipisnya atau sempitnya pakaian itu.

3.Tidak membentuk batas-batas bagian tubuh dan tidak menampakkan bagian-bagian yang cukup menimbulkan fitnah sekalipun tidak tipis. Karena mode pakaian barat telah disebarkan ditengah-tengah masyarakat kita kadang-kadang tidak tipis tetapi menampakkan batas-batas (lekuk2) tubuh dan bagian-bagian yang menimbulkan fitnah. Setiap bagian tubuh tampak batas-batasnya sehingga dapat membangkitkan syahwat. Wanita- wanita yang menggunakan pakaian seperti itu adalah wanita-wanita “ yang berpakaian tetapi telanjang” yang terkena ancaman hadis diatas. Pakaian semacam ini dapat merangsang dan lebih dapat menimbulkan fitnah dari pada pakaian yang tipis.

4.Bukan merupakan pakaian khusus bagi laki-laki.
Sudah dikenal bahwa laki-laki mempunyai pakaian khusus laki-laki dan wanita juga mempunyai pakaian khusus wanita. Apabila laki-laki biasa mengenakan pakaian tertentu yang dikenal sebagai pakaian laki-laki maka wanita tidak boleh memakaianya, karena yang demikian itu haram baginya, sebab Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita menyerupai laki-laki.
Sifat-sifat/kriteria  tersebut sesuai dengan tuntunan berpakaian menurut islam yaitu mempunyai 3 fungsi pokok :
a.       Penutup aurat yaitu kesopanan atau ethica
b.      Keindahan dalam arti lahir yaitu aesthetica
c.       Ketaqwaan yaitu sifat dan sikap taat kepada Allah atau theisthica
Ketiga fungsi tersebut harus berkaitan /berjalin satu sama lain tidak boleh dipisahkan. Taqwa yang artinya mematuhi ketentuan Allah adalah termasuk memakai busana muslimah yang sesuai dengan ketiga fungsi pakaian tersebut bagi wanita mukminah sebagaimana dimaksud dalam QS. An-nur ayat 31 dan Al-ahzab ayat 59 (wanita mukminah )
a.       Menunjukkan statusnya sebagai mukminah yang berbeda dalam berpakaian dan tingkah laku dengan wanita jahiliyah dan musyrikat.
b.      Bukan hanya tidak diganggu tapi sekaligus menunjukkan ketaqwaannya kepada Allah SWT
Itulah diantaranya beberapa kriteria yang wajib dipenuhi bagi muslimah yang shalehah dalam hal berbusana. Bagi seorang muslimah busana bukan lah sebagai hiasan tetapi lebih kepada merupakan sebuah identitas dan karakter bagi dirinya yang akan membedakannya dari wanita-wanita musyrik, fasik, munafik dsb.
Wahai ukhtifillah…. yang menutupi tubuhmu dengan busana syar’i…Allah menyayangimu, melindungimu dari mata-mata yang penuh syahwat, terhindar dari perbuatan maksiat, menjauhkanmu dari neraka dan menjanjikan syurga.


Selengkapnya...

Selasa, 26 Juli 2011

Tanda-tanda Terhalangnya Rahmat Allah dan matinya hati



Tanda-tanda Terhalangnya Rahmat Allah
1. Hilangnya kenikmatan rasa khusyu' dan indahnya bermunajat
2. Tidak adanya keinginan untuk meningkatkan frekwensi ketaatan
3. Tidak diterimanya do'a
4. Keringnya air mata dan hilangnya isak tangis
5. Kerasnya hati dan hilangnya pengaruh nasehat yang diberikan kepadanya., dll

Tanda-tanda matinya hati
1. Tak lagi merasa kegelisahan karena dosa yang diperbuat
2. Tak lagi merasakan kebahagiaan karena kebaikan yang dilakukan
3. Merasa senang dengan perbuatan dosa dan berusaha menampakkannya
4. Keinginan yang membara untuk berkumpul dengan orang-orang yang selalu berbuat maksiat
5. Merasa tertekan ketika meliahat orang-orang yang taat
6.Senantiasa berbuat dosa dan tidak segera bertobat
7. Tidak lagi merasa sedih dengan hilangnya perbuatan taat
8. Tidak lagi menolak kemungkaran, baik itu dengan tangan, lisan, maupun hatinya. dll

Selengkapnya...

Minggu, 28 November 2010

Menjaga Stabilitas Iman



oleh : Zaheed Zawahiry

Mungkin sebagian dari kita akan bertanya-tanya kenapa tiba-tiba iman kita menjadi turun drastris, Awalnya semangat ibadah menggebu-gebu tiba tiba saja menjadi menurun drastic, Tentu semua ini harus cepat diatasi agar tidak berlarut dan menumpuk menjadi sebuah beban dan membuat kita jatuh terperosok kedalam lubang yang jauh dan suram. Sebelum kita mencari solusinya tentu terlebih dahulu kita harus mencari apa sebab-sebab kenapa hal itu terjadi.
Diantara penyebab turunnya semangat iman adalah ;

1.Lemahnya Pemahaman tauhid di dalam hati seseorang
Diantara adalah kurang memahami bahwasanya Allah maha Melihat, baik yang nampak ataupun yang disembunyikan. Sehingga disaat sepi kita merasa Allah tidak melihat kita sehingga membuat kita merasa nyaman untuk berbuat maksiat dan berbuat dosa lainya.terkadang kita melupakan bahwa Allah maha mendengar, bahkan tidak memahami bahwa Allah itu maha mengetahui baik yang sudah berlalu ataupun akan datang.

2. Tidak memahami hakikat Jalan Hidup
Hidup memang penuh dengan Onak dan duri, Hidup penuh dengan bermacam rintangan dan halangan banyaknya cobaan hidup membuat kita menjadi tidak semangat dan terkadang menjadikan kita putus asa dengan datangnya cobaan-dan ujian yang silih berganti tersebut.

3.selalu dihantui oleh masa lalu yang kelam
Masa lalu terkadang membawa manusia untuk tidak semangat menghadapi masa depannya . Dosa yang dilakukan masa lalu menghantui perasaannya sehingga membuat dirinya selalu hina dengan masa lalunya, membuat dirinya merasa tidak pantas untuk menata masa depannya karena aib dan cacat yang melekat dalam dirinya

4.Pasrah dengan keadaan yang ada bagaimana bentuk keadaan tersebut.
Disaat kita hidup dalam kondisi tersebut kita merasa bahwa kita ditaqdirkan seperti itu dan tidak ada keinginan untuk mengubahnya. Padahal hal itu bisa diusahakan untuk dirubah. Kemiskinan yang melekat pada diri kita membuat kita merasa tetap miskin. Lingkungan tempat tinggal kita yang penuh dengan kemaksiatan membuat kita rela dan ikhlas menjalani itu semua. Padahal kita bisa mengubahnya dengan jalan Hijrah dari tempat itu misalnya.atau dengan jalan lain.

5. Selalu berbuat maksiat ataupun mendekati perbuatan maksiat atau sarana yang bisa mengantarkan kita kepada kemaksiatan tersebut.
Itulah diantara penyebab dan yang mendorong kita untuk tidak semangat menata masa depan.membuat stabilitas Iman kita menjadi menurun . Diantara cara ataupun tips yang bisa kita lakukan dan kita ambil adalah :

1.Jadikan Ibadah kita selama ini Adalah sebuah kebutuhan,bukan hanya sekedar kewajiban semata
Disaat kita membutuhkan sesuatu pasti kita tidak akan bosan dengan hal tersebut,contohnya makan, pernahkan kita merasa bosan untuk makan?tentu tidak. Kenapa karena kita butuh makan.jadikan ibadah sholat kita menjadi sebuah kebutuhan hidup kita jadikan ibadah tadabbur qur’an kita menjadi sebuah santapan pagi kita.

2.Hindari Sifat Menunda-Nunda
Sifat menunda-nunda sebuah pekerjaan ataupun ibadah adalah perbuatan setan. Itulah cara syaithan membisikkan kepada kita agar menunda ibadah kita dengan alas an kita masih muda, pekerjaan kita lagi tanggung atau dengan alasan yang lain yg membuat kita lengah. Salah satu cara atau tips agar jangan sampai bentrok antara waktu kerja dan ibadah adalah jangan mengerjakan sesuatu dekat dengan waktu sholat . ketika teringat langsung kerjakan

3. Hindari Kehidupan yang menyendiri
Hidup sendiri atau bersunyi dari keramaian mengundang potensi dosa,apalagi zaman sekarang ini dimana technologi dan alat komunikasi sudah begitu mudah masuk kekamar-kamar kita. Internet misalnya begitu mudah akses yg kita peroleh. Maka untuk menghindari hal itu maka seringlah duduk bersama orang-orang sholeh baik dimajelis dzikir ataupun dengan mengisi kegiatan yang bermamfaat bersama teman-teman lain atau ditempat keramaian yg tidak dipenuhi dgn maksiat seperti mesjid misalnya atau perpustakaan.
Ingatlah sebuah pepatah mengatakan : bahwa biasanya harimau biasa memangsa kambing yang berjalan sendirian.

4. Berusahalah Untuk Senantiasa Agar Bisa Husnul khatimah
Diantaranya adalah dengan jalan mengingat kematian yang datangnya pasti tapi tidak diketahui kapan datangnya. Atau dengan menjaga diri agar jangan sampai mencintai dunia dan selalu mengingat bahwa amalan itu bikhaatimiha ( akhir hayat kitalah yang akan menentukan )

5. Berdo’alah kepada Allah agar senantiasa ditetapkan hati kita dalam keadaan beriman

Akhiru da’waana Alhamdulillahi washsholaatu ala rasulihi Selengkapnya...

Senin, 04 Oktober 2010

Mengubah Kebisaan menjadi kecintaan Membaca dan Menulis

Oleh : Hernowo


“Janganlah rumahmu kamu jadikan kandang—hanya roti dan air yang kamu sediakan. Sediakan pula buku-buku di rumahmu sehingga apabila ruhanimu haus dan lapar, ruhanimu dapat mendapatkan minuman dan makanannya.”
ALI SYARI`ATI

Kami menggunakan (lebih tepat: menggabungkan) dua kegiatan, yaitu membaca dan menulis, karena apabila dua kegiatan ini digabungkan, efeknya akan lebih dahsyat ketimbang dua kegiatan tersebut dilakukan secara terpisah atau sendiri-sendiri. Dalam istilah kami, penggabungan dua kegiatan membaca dan menulis tersebut kami sebut sebagai “mengikat makna”: membaca memerlukan menulis (mengikat) dan menulis memerlukan membaca.

“Membaca dapat menghindarkan seseorang terserang demensia (penyakit rusaknya jaringan saraf otak).”
DR. C. EDWARD COFFEY

Kemudian, slogan kami adalah ingin "mengubah kebisaan menjadi kecintaan membaca dan menulis". Slogan ini kami sandarkan pada ucapan seorang penulis buku anak-anak asal Australia, Paul Jennings, yang menciptakan buku sangat bagus tentang bagaimana menanamkan kecintaan membaca sejak dini. Judul buku tersebut The Reading Bug dan telah kami alihbahasakan menjadi Agar Anak Anda Tertular “Virus” Membaca (Penerbit MLC, 2006).

Dalam buku tersebut, kami menemukan kata-kata Jennings yang sangat bagus yang membuat kami sadar tentang apa sesungguhnya makna membaca dan menulis itu. Jennings berpesan kepada kami sebagai berikut: “Menulis (dan juga membaca—Hernowo) adalah keperluan pribadi bukan kerja (atau tugas) karena di dalamnya ada kesenangan dan manfaat untuk kehidupan sehari-hari. Ada nilai yang tak terukur di dalam menulis (dan juga membaca).”

“Menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam yang traumatis akan menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif, dan kesehatan fisik yang lebih baik.”
DR. JAMES W. PENNEBAKER

Berdasarkan hal-hal yang telah kami sebutkan di ataslah klinik ini kami coba operasikan dengan maksud untuk membuat perpustakaan tidak sekadar menyediakan buku-buku, komunitas baca-tulis dapat menjalankan aktivitas yang sangat kaya dan memberdayakan, serta masyarakat luas yang benar-benar ingin meningkatkan kemampuan membaca dan menulis dapat memiliki rujukan ke mana mereka akan bertanya (berkonsultasi) apabila mereka menjumpai persoalan-persoalan baca-tulis.
Perpustakaan yang didirikan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga swasta, di pelbagai pelosok negeri, tetaplah sangat penting. Apa jadinya apabila sarana membaca tidak tersedia? Juga peran komunitas baca-tulis dalam menggerakkan masyarakat luas untuk mau dan mampu membaca sangatlah diperlukan. Namun, siapa yang akan menjaga semangat dan gairah para penggiat dan penggerak baca-tulis itu? Siapa yang akan mendukung kiprah mereka yang sangat penting itu? Siapa yang akan menjadikan perpustakaan efektif dan "hidup"?
Kami, Penerbit Mizan—khususnya lewat unit kegiatan kami bernama Mizan Learning Center (MLC)—ingin memberikan dukungan terhadap pendirian perpustakaan dan juga aktivitas pelbagai komunitas baca-tulis. Melalui pendirian Klinik Baca-Tulis MLC, kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia dapat ditumbuhkan kegairahan bukan saja membacanya tetapi juga menulisnya. Kami ingin mengubah kebisaan membaca dan menulis mereka menjadi kecintaan membaca dan menulis karena kami sadar bahwa membaca dan menulis adalah sebentuk keterampilan yang perlu dibiasakan. Dan kami dirikan klinik ini untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat luas dalam membantu mereka memecahkan problem baca-tulis.

“Hasil-hasil riset dengan jelas menunjukkan bahwa kita belajar menulis lewat membaca.”
DR. STEPEN D. KRASHEN

Mengapa Klinik?
Secara bahasa “klinik” mempunyai tiga arti. Pertama, bagian rumah sakit atau lembaga kesehatan tempat orang berobat dan memperoleh advis medis serta tempat mahasiswa kedokteran mengadakan pengamatan terhadap kasus-kasus penyakit yang diderita para pasien. Kedua, balai pengobatan khusus, seperti “klinik keluarga berencana” atau “klinik penyakit paru-paru”. Ketiga, organisasi kesehatan yang bergerak di dalam penyediaan pelayanan kesehatan kuratif (diagnosis dan pengobatan), biasanya terhadap satu macam gangguan kesehatan.
Meskipun tak begitu persis, kegiatan Klinik Baca-Tulis (KBT) memang ingin meniru rumusan “klinik” sebagaimana disampaikan di atas. Pertama, KBT ingin dianggap sebagai bagian penting dari perpustakaan (baik perpustakaan publik maupun privat), dan dapat digunakan untuk mendata masyarakat yang gemar membaca atau apa saja persoalan yang terjadi di lingkungan masyarakat tertentu terkait dengan kegiatan membaca dan menulis. Kedua, KBT secara khusus dapat menjadi rujukan bagi masyarakat yang ingin membincangkan ihwal baca-tulis dan juga bagaimana memilih buku-buku yang bergizi, misalnya. Hal kedua ini dimungkinkan karena, di tengah masyarakat kita, belum banyak tersedia sosok yang kompeten yang bisa ditanya apabila ada orang yang ingin mengatasi problem membaca atau menulis. Ketiga, kelak, entah kapan, setiap perpustakaan akan memiliki KBT untuk mendampingi pengoperasian perpustakaan agar perpustakaan bukan hanya menyediakan sarana membaca tetapi juga berfungsi sebagai penyebar “virus” cinta membaca dan menulis.

Tujuan Klinik Baca-Tulis
Pertama, menyediakan tempat bagi masyarakat luas yang ingin mengobrolkan kegiatan baca-tulis yang memberdayakan (membuat mereka bertambah senang membaca dan menulis dan jika ada problem membaca dan menulis mereka pun mudah mengatasinya dalam waktu cepat).

“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”
ALI BIN ABI THALIB
Kedua, menyediakan “dokter” yang sangat kompeten yang siap melayani masyarakat dalam memecahkan problem-problem membaca dan menulis kapan pun mereka memerlukannya (bisa lewat online [SMS dan e-mail] maupun offline).
Ketiga, mengubah kebisaan membaca-menulis menjadi kecintaan membaca-menulis (“mengikat makna”)—masyarakat menjadi terbiasa untuk membaca buku dan mengisi waktu luangnya untuk membaca dan menuliskan (“mengikat”) hasil-hasil penting dari kegiatan membacanya).
Keempat, membangun lingkungan yang benar-benar “ramah” baca (anak-anak dapat menyaksikan lewat mata dan kepalanya sendiri bahwa membaca dan menulis itu mengasyikkan; mereka dapat melihat hal itu di mana-mana ketika orang sedang menunggu di tempat praktik dokter, di taman-taman yang asri, di perjalanan, dan juga di siaran-siaran televisi yang menyerbu masyarakat selama 24 jam penuh).
Kelima, menciptakaan “teladan-teladan” membaca, khususnya para pustakawan-pustakawati, orangtua, guru, dan tokoh masyarakat (apakah mungkin masyarakat luas dapat menjalankan kegiatan membaca dan menulis secara bersemangat, bergairah, dan berkelanjutan apabila di tengah-tengah mereka sangat kurang figur-figur atau teladan-teladan yang mau dan mampu membaca-menulis secara mengasyikkan?).
Bagaimana Mengoperasionalkan Klinik

“Dalam makna yang sungguh-sungguh, sebenarnya orang yang membaca kepustakaan yang baik telah hidup lebih daripada orang-orang yang tak mau dan tak mampu membaca.... Adalah tak benar bahwa kita hanya punya satu kehidupan yang kita jalani. Jika ita bisa membaca, kita bisa menjalani berapa pun banyak dan jenis kehidupan seperti yang kita inginkan."
S.I. HAYAKAWA

Dalam tahap sangat awal, klinik ini hanya menyediakan orang-orang yang dapat dijadikan rujukan dalam membincangkan kegiatan membaca dan menulis. Orang-orang tersebut, selain memahami dan menguasai persoalan membaca dan menulis, juga benar-benar telah menjadi “teladan” membaca dan menulis (“mengikat” sesuatu yang bermakna yang diperoleh dari membaca). Mereka benar-benar bukan hanya bisa tetapi juga cinta membaca dan menulis.
(Untuk keperluan tersebut, KBT akan menyediakan buku-buku “bergizi” yang dapat membekali masyarakat luas dalam meningkatkan kemampuan membaca-menulis dan, terutama, buku-buku yang memang mengasyikkan yang mampu merangsang gairah mereka dalam membaca dan menulis. Buku-buku tersebut, antara lain, adalah Mengikat Makna [ada tiga buku], Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Quantum Reading, Quantum Writing, Vitamin T, dan 7 Warisan Berharga).
Dalam tahap selanjutnya, para “teladan” membaca tersebut akan terus meningkatkan diri sehingga menjadi “dokter” (benar-benar memiliki keahlian-tinggi dalam) membaca dan menulis. Mereka tidak hanya menjadi tempat rujukan masyarakat untuk memecahkan problem membaca dan menulis tetapi juga menjadi salah satu “penggerak” (pembangkit semangat dan gairah) masyarakat dalam membiasakan diri menjalani kegiatan membaca dan menulis setiap hari

Selengkapnya...

Selasa, 13 Oktober 2009

Hikmah di Balik Musibah


Banyak orang merasa hina karena ditimpa musibah. Terlebih jika bencana tersebut berbentuk penyakit menahun atau menular atau berbentuk bencana yang datang secara beruntun. Padahal sakit atau cobaan yang lain adalah kesempatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya untuk menghapuskan dosa. Tentu dengan catatan bahwa si hamba bersabar, tidak banyak mengeluh, tidak menyalahkan Allah ta’ala. Musibah juga merupakan ajang yang Allah berikan untuk meninggikan derajat seseorang.
Itulah sebabnya, tidak sedikit salafus-shalih yang menikmati musibah yang menimpa mereka. Derita dunia ada batasnya, derita akhirat tidak terbatas. Surga Allah sangat mahal harganya. Amal belaka tidak cukup untuk memperolehnya. Seorang ulama mengatakan, “ Timbangan kebaikan seseorang kelak, kadang bukan buah dari amal shalih yang ia lakukan, tetapi buah dari kesabarannya, buah dari bersikap baik dan buah dari ridha atas ketentuan-Nya… .”
Dalam tulisan singkat ini, penulis akan menjelaskan bahwa orang sakit atau orang yang kena musibah bukanlah orang yang hina di hadapan Allah SWT. Semuanya akan dijelaskan berdasarkan keterangan yang penulis dapatkan dari al-Qur’an dan Sunnah. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua di sisi Allah SWT.

Orang sakit atau yang dapat musibah, bukanlah orang yang hina di hadapan Allah

Mereka bukan orang hina di hadapan Allah, bahkan sebaliknya mereka adalah orang-orang yang mulia di sisi Allah SWT. Hal ini disebabkan oleh :

1. Allah memuliakan orang yang sakit baik karena terjadinya bencana atau tidak, dengan cara memberikan dua penghormatan kepada mereka sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits qudsi

ﺇن الله عزوجل يقول يوم القيامة : ياابن ﺁدم ... مرضت ولم تعدني. قال : يا رب كيف أعودك وأنت رب العالمين قال : أما علمت أن عبدي فلانا مرض فلم تعده أما عامت أنك لو عدته لوجدتني عند ه
“ Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla berfirman pada hari kiamat : ‘Wahai anak Adam, Aku sakit, mengapa engkau tidak menjenguk-Ku ?’ Berkata anak Adam : ‘Bagaimana aku menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Rabb semesta alam ?’ Allah ta’ala menjawab : ‘Apakah engkau tidak mengetahui kalau hamba-Ku si fulan sakit dan engkau tidak menjenguknya ?! Apakah engkau tidak mengerti bahwa jika engkau menjenguknya , niscaya akan engkau dapati Aku di sisinya “. (HR. Muslim )

Renungkanlah Firman Allah kepada hamba-Nya “ Aku sakit, mengapa engkau tidak menjenguk-Ku ?” Sungguh mengejutkan, Allah menjadikan sakit seorang hamba seakan-akan Dialah yang menderita sakit. Hal ini tidak lain adalah sebagai suatu penghormatan kepada hamba-Nya yang sakit, dan merupakan bukti kedekatan Allah kepadanya. Maka berbahagialah orang-orang yang sedang sakit. Penghormatan lain yang terdapat dalam hadits adalah firman Allah “Apakah engkau tidak mengerti bahwa jika engkau menjenguknya , niscaya akan engkau dapati Aku di sisinya “. Subhanallah … Allah berada di sisimu wahai orang sakit, memuji orang yang menjengukmu dan mencela orang yang tidak menjengukmu. Ini adalah penghormatan di atas penghormatan menjadi bukti bahwa orang sakit bukan orang yang hina, tetapi justru sebaliknya.

2. Musibah merupakan bukti bahwa Allah masih mencintaimu. Rasulullah Saw bersabda
من يرد الله به خيرا يصب منه
“ Siapa yang Allah berkehendak kebaikan pada dirinya, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya “. (HR. Bukhari no. 5645)
Kebaikan yang dimaksud oleh hadits antara lain adalah :

 Penghapusan dosa, sebagaimana sabda Rasulullah Saw,

ما من مسلم يصيبه أذي من مرض فما سواه ﺇلا حط الله به سيئاته كما تحط الشجرة ورقها
“ Tidaklah seorang muslim yang ditimpa musibah penyakit atau musibah lain, kecuali Allah hapuskan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daunnya “. (HR. Bukhari no. 5667)

ما يصيب المسلم من نصب ولاوصب ولا هم ولا حزن ولا أذي ولا غم حتي الشوكة يشاكها ﺇلا كفر الله بها من خطايا ه

“ Tidak ada kepenatan, sakit menahun, kebimbangan, kesedihan, penderitaan, dan kesusahan yang menimpa seorang muslim, sampai duri yang menusuknya, kecuali dengan itu semua Allah hapus dosa-dosanya “. (HR. Bukhari no. 5641)

Sesungguhnya musibah walaupun kecil seperti tertusuk duri, apalagi musibah besar seperti bencana alam, adalah kafarah terhadap dosa-dosa, dan bersyukurlah kepada atas musibah yang dialami karena ia adalah nikmat, yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa. Hal ini karena Allah mencintaimu dan menginginkanmu berjalan di atas bumi ini tanpa dosa-dosa.

 Peningkatan derajat, sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

ما من مسلم يشاك شوكة فما فوقها ﺇلا كتبت له بها درجة ومحيت عنه بها خطيئة
“ Tidaklah seorang muslim tertusuk duri, atau sesuatu yang lebih kecil dari duri, kecuali akan ditetapkan baginya satu derajat dan dihapuskan untuknya satu kesalahan “.

Bahkan, Allah telah tetapkan untuk sebagian manusia kedudukan yang tinggi di surga, tetapi tidak ada satupun amalan shaleh darinya yang bisa mengantarkan dia mencapai kedudukan tersebut. Maka Allah akan timpakan kepadanya musibah sebagai ujian untuknya, sehingga ia akhirnya berhasil mencapai kedudukan yang sebelumnya tidak bisa dicapai dengan amal shaleh yang ia miliki. Rasulullah Saw bersabda,

ﺇن الرجل لتكون له عند الله المنزلة فمايبلغها العمل , ولا يزال الله يبتليه بما يكره حتي يبلغه ﺇياها
“ Sesungguhnya ada orang yang mendapat kedudukan di sisi Allah, akan tetapi tidak ada satu amalan pun darinya yang bisa mengantarkannya mencapai kedudukan itu, oleh karena itu Allah Ta’ala mengujinya dengan sesuatu yang tidak ia sukai. Sehingga dengan hal itu, ia mendapatkan kedudukan tersebut “. (HR. Ibnu Hibban)

 Pengantar ke surga, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari hadits no. 5652 yang maknanya:

“ Telah datang kepada Nabi Saw seorang wanita, ia berkata : ‘ Aku terkena penyakit ayan. Dan terkadang karenanya sebagian tubuhku tersingkap, doakanlah aku !” Rasulullah bersabda : ‘ jika engkau mau, bersabarlah maka bagimu surga sebagai balasannya. Jika engkau mau, aku akan berdoa kepada Allah supaya menyembuhkanmu ‘. Lalu wanita tersebut berkata : ‘ Saya akan bersabar ‘. Kemudian dia berkata : ‘ Sesungguhnya karena ayan ini sebagian tubuhku tersingkap, doakanlah kepada Allah agar tubuh saya tidak tersingkap (ketika penyakitnya kambuh)’. Rasulullah Saw pun mendoakannya. “

Hadits ini tersebar di kalangan para sahabat, sehingga Ibnu Abbas Ra berkata kepada Atha’ bin Abi Rabah : ‘ Maukah engkau aku perlihatkan wanita penghuni surga ?’ Atha’ menjawab : ‘ Tentu saja mau .’ Lalu Ibnu` Abbas berkata : ‘ Wanita ini .’ Kemudian beliau tunjuk wanita tersebut dan meriwayatkan hadits di atas.
Dalam sebuah hadits qudsi juga dijelaskan, bahwa orang yang bersabar terhadap musibah yang menimpanya di dunia, maka balasan baginya adalah surga.

ﺇن الله تعالي قال : ﺇذابتليت عبدي بحبيبتيه فصبرعوضته منهما الجنة
“ Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman : “ Apabila Aku menimpakan musibah kepada kedua mata hamba-Ku, lalu dia bersabar, maka Aku menggantinya dengan surga “. (HR. Bukhari no. 5653)
Mata merupakan anggota tubuh yang paling dicintai oleh manusia. Dengan mata dia bisa menikmati apa yang ia lihat. Maka siapa yang kehilangan mata, baik karena bencana atau tidak, bersabarlah karena balasannya adalah surga.

3. Orang yang sering mendapat cobaan, bukanlah orang yang direndahkan oleh Allah SWT. Perhatikanlah hadits berikut,

سئل النبي صلي الله عليه وسلم : أي الناس أشد بلاءا ؟ قال : الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل يبتلي الرجل علي حسب دينه حتي يمشي علي الأرض وما عليه خطيئة
“ Nabi Saw ditanya ‘ Manusia manakah yang paling bersangatan cobaan baginya ?’ Rasulullah Saw menjawab ‘ Para nabi, kemudian orang shalih sesudahnya. Seseorang diberi cobaan sesuai dengan imannya, sehingga dia berjalan di atas bumi tanpa ada kesalahan .” (HR. Turmudzi, Ibnu Hibban dan al-Hakim)

أشد النا س بلاء الأنبياء ثم العلماء ثم الصالحون
“ Orang yang mendapat cobaan paling berat adalah para nabi, kemudian para ulama, kemudian orang-orang shalih .” (HR. al-Hakim)
Dengan dua hadits ini terbukti bahwa orang yang sering dapat cobaan bukanlah orang hina, bahkan sebaliknya, mereka adalah orang-orang pilihan dan orang-orang yang paling Allah cintai. Karena Allah mencintai mereka, maka diberikanlah cobaan agar dosa-dosa dihapuskan, derajat keimanan semakin tinggi, dan akhirnya menempati tempat yang mulia di surga. Begitu juga, Allah memberikan musibah sesuai dengan tingkat keimanan. Jika imannya kuat, maka ujian yang menimpanya akan semakin berat. Jika imannya tipis, maka ujiannnya pun akan ringan. Sekarang kita mau memilih yang mana… ujian berat yang merupakan bukti pengakuan Allah, bahwa iman kita kuat, atau ujian ringan yang menandakan iman kita masih tipis ?

(penulis : Farhan Syarifuddin, Lc ) Selengkapnya...